Analisis klaster dilakukan
untuk mengelompokkan objek-objek. Berdasarkan karakteristik yang dimiliki.
Analisis klaster dapat dipakai pada bidang apa saja. Namun, pemakaian teknik
ini lebih familiar pada bidang pemasaran karena memang salah satu kegiatan yang
dilakukan dalam pemasaran dalah
pengelompokan, yang disebut segmentasi pasar.
Langkah-langkah melakukan analisis klaster dengan
SPSS
- Buka file data cluster dengan perintah file/open/data (data yang saya miliki)
- Dari menu utama SPSS, pilih Analyze, classify
kemudian pilih sub menu hierarchical cluster
- Masukkan indikator pertanyaan satu sampai
dengan enam ke dalam kotak variabel
- Pilih
tombol Statistic, lalu klik Agglomeration Schedule. Kemudian continue
- Lalui
klik plots, kemudian pada kotak dialog yang diberikan, klik dendogram
kemudian klik continue
- Kemudian
pilih menu method pada kotak dialog utama. Pada kotak dialog yang muncul,
pilih pengukuran interval lalu Squared euclidean distancen sebagai
jarak dan sebagai cluster method pilih ward’s method. Tampak dilayar
seperti di bawah. Lalu klik continue.
Ward
Linkage
Agglomeration Schedule
|
Stage
|
Cluster Combined
|
Coefficients
|
Stage Cluster First Appears
|
Next Stage
|
Jumlah Klaster
|
|
Cluster 1
|
Cluster 2
|
Cluster 1
|
Cluster 2
|
|
1
|
14
|
19
|
0,5
|
0
|
0
|
9
|
19
|
|
2
|
1
|
6
|
1
|
0
|
0
|
7
|
18
|
|
3
|
2
|
13
|
2
|
0
|
0
|
17
|
17
|
|
4
|
10
|
16
|
3,5
|
0
|
0
|
13
|
16
|
|
5
|
7
|
12
|
5,5
|
0
|
0
|
7
|
15
|
|
6
|
3
|
8
|
7,5
|
0
|
0
|
15
|
14
|
|
7
|
1
|
7
|
10,25
|
2
|
5
|
11
|
13
|
|
8
|
5
|
20
|
13,75
|
0
|
0
|
10
|
12
|
|
9
|
4
|
14
|
17,25
|
0
|
1
|
13
|
11
|
|
10
|
5
|
11
|
21,083
|
8
|
0
|
12
|
10
|
|
11
|
1
|
17
|
26,633
|
7
|
0
|
14
|
9
|
|
12
|
5
|
9
|
32,55
|
10
|
0
|
17
|
8
|
|
13
|
4
|
10
|
39,45
|
9
|
4
|
16
|
7
|
|
14
|
1
|
15
|
47,15
|
11
|
0
|
15
|
6
|
|
15
|
1
|
3
|
57,275
|
14
|
6
|
19
|
5
|
|
16
|
4
|
18
|
70,708
|
13
|
0
|
18
|
4
|
|
17
|
2
|
5
|
85,292
|
3
|
12
|
18
|
3
|
|
18
|
2
|
4
|
150,792
|
17
|
16
|
19
|
2
|
|
19
|
1
|
2
|
288,55
|
15
|
18
|
0
|
1
|
Keterangan: kolom jumlah klaster adalah tambahan
dari penulis, SPSS tidak memberikan
kolom ini
Berdasarkan αglomerαtion schedule di atas, dua objek pertama
yang dipasangkan adalah responden 14 dan
19 karena pasangan ini yang memiliki koefisien jarak paling rendah. Pada tahap ini jumlah k1aster ada 19.
Pada baris pertama itu, pada kolom next
stαge tertulis 9. Artinya, pada tahap ke-9, pasangan 14 dan
16 akan mendapat anggota baru, yaitu responden ke 4.
Pada tahap 2, responden 1 dan 6
dipasangkan. Artinya, koefisien jarak terendah kedua adalah pasangan ini. Lalu,
berdasarkan data pada kolom next stαge, pasangan ini akan memperoleh anggota baru pada
tahap ke 7
Demikian seterusnya,
pada setiap tahap berkurang satu k1aster, sehingga pada tahap terakhir, yaitu
tahap 19, semua responden menjadi satu k1aster, seperti terlihat pada kolom
jumlah klaster. Κolom jumlah k1aster ditambahkan oleh penulis
sendiri untuk memudahkan pemahaman. Analisis k1aster tidak memutuskan jumlah
klaster, hanya menunjukkan jumlah anggotanya sekian, anggotanya manasaja.
Κeputusan berapa jumlah klaster diambil berada di tangan peneliti sendiri.
Penentuan jumlah klaster tidak
pasti, jadi tergantung pada Judgement peneliti. Namun, sekalipun
tidak pasti, terdapat beberapa pertimbangan sebagai yaitu
1.
Teori,
konsep, model ataupun pertimbangan praktis, bisa saja memberi arahan tentang
jumlah klaster.
2. Dalam
pengklasteran hierarkis, jarak dapat digunakan sebagai kriteria. Untuk itu,
perlu mengombinasikan hasil dari skedul aglomerasi dan dendogrαm. Dai skedul aglomerasi, terlihat bahwa dari
tahap pertama sampai tahap 16, peningkatan koefisien tidak drastis, akan
tetapi lonjakan drastis sebesar 65,5 mulai terjadi pada tahap 17 dan 18, yaitu dari
85,292 (tahap 17) menjadi 150,792 (tahap 18). Ini terjadi pada saat proses
aglomerasi menghasilkan tiga klaster.
3. Lalu, pada dendogram terlihat bahwa dari sisi “Rescaled
Distance Cluster Combine”, dua tahap terakhir dai dendogram, yaitu tahap “tiga
klaster” dan “tahap dua klaster” memiliki jarak paling besar. Dari kedua hasil
ini dapat disimpulkan bahwa keputusan tiga klaster merupakan yang terbaik.
4. Jumlah relatif anggota klaster juga dapat
dijadikan sebagai bahan pertimbangan. Perhatikan dendogram. Kalau solusinya empat
k1aster, maka salah satu k1aster berisikan hanya 1 anggota, yaitu anggota nomor 18. Tentu
terasa aneh kalau ada sebuah grup yang anggotanya hanya satu. Sedangkan dengan solusi
tiga k1aster yang telah kita pilih, jumlah anggotanya adalah enam (klaster 1),
enam (k1aster 2) dan delapan (k1aster 3).
Kesimpulan. Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan di atas,
jumlah klaster terbaik adalah tiga. Dari dendogram terlihat anggota setiap
klaster. Apabila kita mulai dari atas, klaster satu beranggotakan responden 14,
19, 4, 10, 16, dan 18. Klaster 2 beranggotakan responden 2,13,5,20,11, dan 9. Τerakhir, klaster 3
beranggotakan responden 3,8,1,6,7,12, 17, 15.
Setelah diperoleh jumlah klaster langkah
selanjutnya adalah membuat intrepretasi dan
profil. Pengelompokan tidak bermιanfaat apabila kita tidak mengetahui
profil setiap kelompok. Untuk menginterpretasi klaster dan membuat profil
mereka, gunakan rata-rata setiap klaster pada setiap variabeΙ (yang dinamakan centroid). Centroid
memungkinkan kita memberi label untuk setiap k1aster.
Tabel 7.1 Profil Klaster Satu
|
Responden
|
V1
|
V2
|
V3
|
V4
|
V5
|
V6
|
|
14
|
4
|
6
|
4
|
6
|
3
|
6
|
|
19
|
4
|
6
|
3
|
6
|
3
|
6
|
|
4
|
3
|
7
|
4
|
5
|
2
|
7
|
|
10
|
3
|
5
|
3
|
6
|
4
|
6
|
|
16
|
3
|
5
|
4
|
6
|
5
|
7
|
|
18
|
3
|
7
|
2
|
6
|
4
|
3
|
|
Rata-rata
|
3.33
|
6.00
|
3.33
|
5.83
|
3.50
|
5.83
|
Tabel 7.2 Profil Klaster Dua
|
Responden
|
V1
|
V2
|
V3
|
V4
|
V5
|
V6
|
|
2
|
2
|
3
|
2
|
4
|
5
|
4
|
|
13
|
2
|
3
|
2
|
5
|
4
|
4
|
|
5
|
2
|
4
|
2
|
2
|
7
|
4
|
|
20
|
3
|
4
|
3
|
4
|
7
|
3
|
|
11
|
2
|
5
|
2
|
3
|
5
|
3
|
|
9
|
2
|
7
|
2
|
3
|
7
|
3
|
|
Rata-rata
|
2.17
|
4.33
|
2.17
|
3.50
|
5.83
|
3.50
|
Tabel 7.3 Profil Klaster Tiga
|
Responden
|
V1
|
V2
|
V3
|
V4
|
V5
|
V6
|
|
3
|
6
|
3
|
6
|
4
|
2
|
3
|
|
8
|
7
|
2
|
7
|
4
|
2
|
4
|
|
1
|
6
|
5
|
6
|
3
|
3
|
4
|
|
6
|
6
|
4
|
6
|
3
|
3
|
4
|
|
7
|
5
|
3
|
6
|
3
|
3
|
4
|
|
12
|
5
|
4
|
5
|
4
|
2
|
4
|
|
17
|
4
|
4
|
7
|
2
|
2
|
5
|
|
15
|
6
|
5
|
4
|
2
|
1
|
4
|
|
Rata-rata
|
5.63
|
3.75
|
5.88
|
3.13
|
2.25
|
4.00
|
Seperti terlihat pada Tabel 7.1, k1aster satu memiliki
rata-rata yang tinggi pada pernyataan-pernyataan:
V2 : Saya banyak mendengarkan nasihat teman dalam memilih perguruan
tinggi
V4 : Bagi saya, kampus adalah
tempat paling baik untuk meluaskan pergaulan.
V6 : Dikampus, saya menghabiskan lebih banyak waktu bersama
teman-teman.
Berdasarkan pernyataan-pernyataan
tersebutlah kita menginterpretasi profil klaster ini dan dibutuhkan kreatiνitas untuk
membuat profil klaster. Mahasiswa dalam klaster ini lebih dipengaruhi oleh teman atau
pertimbangan siapa teman saya dalam memilih perguruan tinggi. Oleh karena itu,
kita dapat menamai klaster ini dalam bahasa ilmiah sebagai KLASTER SOSIAL,
sedangkan dalam bahasa populer sebagai KLASTER GAUL.
Langkah
selanjutnya, untuk mengetahui akurasi analisis klaster, ada beberapa cara yang
bisa dilakukan yaitu :
- Pertama,
kalau ukuran sampel besar, coba bagi sampel ke dalam dua grup secara
acak.. Lalu, lakukan analisis klaster pada masing-masing grup. Kalau
hasilnya sama, bolehlah kita percaya akan akurasi analisis klaster.
- Kedua,
dalam pemasaran analisis klaster tentunya memberikan gambaran segmen-segmen pasar yang
ada. Kalau analisis klaster dapat memberikan profil yang jelas, sehingga
pemasar dapat memprediksi perilaku setiap segmen, dapatlah kita percaya
bahwa analisis klaster akurat.
- Ketiga,
lakukan analisis klaster berulang kali dengan data yang sama, tetapi
dengan memakai jarak dan metode berbeda. Bandingkan hasil dari
masing-masing perlakuan. Kalau hasilnya sama, pantaslah kita yakin bahwa
analisis klaster yang kita lakukan akurat.