ANALISIS MIKRO PERUSAHAAN

Dalam menganalisis sebuah perusahaan kita dapat melakukan 2 hal berikut:
1.       Menganalisis berita yang terkait dengan suatu perusahaan.
Terdapat 2 jenis berita, yaitu, pertama, berita yang tidak terkait dengan strategi perusahaan secara langsung, misalnya tiba-tiba pemimpin perusahaan sakit keras. Berita seperti ini biasanya mendadak dan efeknya terhadap harga saham bersifat jangka pendek. Kedua, berita yang terkait dengan strategi perusahaan secara langsung (aksi korporasi). Misalnya perusahaan memutuskan untuk melakukan akuisisi. Umumnya berita seperti ini akan mempengaruhi performa perusahaan dalam jangka panjang.
2.       Menganalisis laporan keuangan perusahaan. Sebagai perusahaan publik, emiten di BEI selalu melaporkan laporan keuangannya pada publik. Kita dapat mencari laporan in di media massa, website BEI atau di platfrom online trading. Dengan menganalisis laporan keuangan kita dapat mengetahui kesehatan perusahaan tersebut, hingga kita dapat memutuskan apakah perusahaan tersebut layak beli atau tidak.

Tentang Aksi Korporasi

Ada 3(tiga) kategori aksi korporasi yang bisa dilakukan oleh perusahaan:
1.       Untuk membagi Dividen.
Dividen dibagikan karena perusahaan mendapat keuntungan. Biasanya dividen dibagikan setiap periode tertentu (misal kuartalan, tahunan atau dua tahunan). Pembagian dividen ini menunjukkan bahwa terdapat signal positif yakni perusahaan mampu tumbuh. Perusahaan yakin bahwa uang yang telah dibagikan sebagai dividen akan mampu digantikan dengan pendapatan di masa depan. Pembagian dividen umumnya juga menunjukkan signal bahwa perusahaan telah bertumbuh dengan mampu secara stabil membukukan keuntungan yang bisa dibagikan. Secara umum, harga saham perusahaan yang memberikan dividen akan cenderung meningkat, terutama pada saat jatuh tempo dividen tersebut dibagikan.
2.       Untuk mengubah harga saham
Jika harga saham terlalu rendah atau terlalu tinggi, likuiditasnya akan terganggu. Harga saham terlalu tinggi akan menyebabkan saham jarang ditransaksikan. Sebaliknya, harga saham terlalu rendah dapat memiliki kemungkinan delisting (dikeluarkan dari bursa). Sebagai emiten dapat melakukan berbagai aksi korporasi yang dapat mempengaruhi harga saham secara langsung:
a.       Stock Split (SS)
Investor percaya bahwa saham perusahaan yang melakukan SS biasanya naik dahulu. Kemudian setelah SS, harganya juga terus naik. Tetapi tidak semua kasus akan berakhir seperti ini. Kadang setalah SS harga saham malah turun terus. Investor harus mengetahui dengan jelas apa sebenarnya alasan perusahaan melakukan SS. Salah satu alasan bagus untuk melakukan SS adalah untuk memperbesar likuiditas saham tersebut. Harga baru yang lebih rendah banyak investor terutama ritel yang bisa berbelanja saham tersebut di harga baru. Selanjutnya akan lebih banyak investor memburu saham tersebut, dan harganya cenderung naik.
b.      Reverse Split (RS)
Ini merupakan kebalikan dari SS. Jadi jika perusahaan melakukan RS, berarti perusahaan harus mengubah kepemilikan sahamnya, misalnya dari 100 saham menjadi 10 saham, atau 1 saham lama dihargai 10 saham saham baru. RS bagi investor merupakan signal yang tidak bagus. Biasanya harga saham meningkat menjelang RS, kemudian setelah RS harganya jatuh setelah investor ramai-ramai menjualnya.
c.       Right Issue (RI)
RI merupakan peluncuran saham baru. Biasanya aksi ini akan mendilusi kepemilikan saham (mengurangi persentase kepemilikan saham) karena lebih banyak saham yang beredar di pasar. Karena itu pada umumnya RI dtanggapi negatif oleh sebagian pelaku pasar dengan menjual sahamnya sebelum terjadi RI.
d.      Buy Back (BB)
Biasanya emiten berniat membeli sahamnya sendiri (BB). Secara logika, mana ada perusahaan yang ingin membeli sendiri sahamnya jika sahamnya jelek. Oleh karena itu, signal BB biasanya membuat suatu saham naik harganya. Mengapa demikian? Pembelian kembali akan mengurangi jumlah saham beredar. Sehingga di masa mendatang peningkatan pendapatan perusahaan akan dibagi jumlah saham yang lebih sedikit, sehingga menghasilkan earning per share yang lebih tinggi .
3.    Untuk Restrukturisasi Perusahaan
Restrukturisasi ini bagi perusahaan bertujuan untuk meningkatkan performa perusahaan di masa mendatang, dalam bentuk :
a.       Akuisisi/Merger
Perusahaan yang diakuisisi, apalagi oleh perusahaan asing akan membuat nilai sahmnya melonjak. Investor harus berhati-hati dengan rumor akuisisi karena sering sekali ditiupkan. Misalnya INKP pernah diisukan diakuisisi perusahaan AS. Kabar akuisisi yang tidak jadi juga bisa membuat harga saham jatuh kembali, dan seringkali berada di bawah level harga semula. Contoh kasus adalah BNII oleh Maybank, yang kabar akuisisinya sempat membuat investordeg-degan menanti kabar yang pasti. Emiten BEI yang mengakuisisi perusahaan lain juga bisa menjadi berita baik jika perusahaan yang diakuisisi dapat mendorong efisiensi atau meningkatkan pendapatan. Misalnya akuisisi  LSIP oleh INDF.
b.      Kerja Sama
Jika ada emiten melakukan negosiasi untuk kerja sama atau kontrak tertentu, emiten tersebut layak dikoleksi. Misal suatu perusahaan membuat kontrak untuk memasok produknya ke perusahaan tertentu dalam jangka panjang. Hal ini akan ditanggapi sebagai signal positif atas kelangsungan pendapatan perusahaan.
c.       Penggantian Sektor Usaha
Ada pula emiten yang berganti ke sektor usaha yang dianggap berprospek bagus. Contohnya pada saat komoditas booming banyak perusahaan yang mengalihkan usahanya ke komoditas. Jika ada emiten yang berganti usaha, kita sebaiknya menunggu selama beberapa waktu selama 1-2 tahun ke depan dan melihat perkembangannya sebelum memutuskan untuk membeli.
d.      Spin Off

Emiten memecah bagian di dalam dirinya menjadi perusahaan baru yang berdiri sendiri. Keuntungannya adalah masing-masing perusahaan, baik perusahaan induk dan anak, tetap fokus pada kompetensinya masing-masing. Biasanya perusahaan induk tetap menyokong perusahaan anak dalam segi pendanaan atau strategi.

Analisis Sektoral

Setiap saham yang ada di BEI dapat dipilah ke dalam berbagai sektor. Dengan memahami     karakteristik masing-masing sektor kita akan dapat mengantisipasi jika ada sesuatu hal yang bisa mempengaruhi sektor tersebut.

Berikut adalah karakter masing-masing sektor dan berbagai hal yang mempengaruhinya:

Pertanian/Perkebunan
Perusahaan di sektor ini bergerak di bidang peertanian, perkebunan, perikanan atau peternakan. Saham di sektor ini terutama perkebunan khususnya kelapa sawit,seperti AALI, LSIP, UNSP, SGRO. Yang lain adalah BISI (jagung)
Karakter: sektor ini sangat tergantung pada harga komoditas di luar negeri (baik Crude Palm Oil/CPO atau jagung). Secara jangka panjang, sektor ini memiliki pertumbuhan yang stabil, karena CPO dibutuhkan di seluruh dunia sebagai bahan pangan (minyak goreng) dan biofuel. Indonesia juga merupakan salah satu andalan ekspor Indonesia. Cuma sayangnya penjualan CPO banyak dikontrol oleh pemerintah (dengan adanya pajak ekspor, dll). Semakin tinggi pajak ekspor, produsen cenderung menahan ekspor dan menurunkan target penjualan. Sebagai tambahan, CPO juga terpengaruh harga minyak dunia sejak menjadi substitusi minyak (biofuel).
Harga CPO dapat dilihat di:

harga minyak dan logam dapat dilihat di:

Pertambangan/Minyak/Logam
Sektor ini terdiri dari saham-saham di bidang pertambangan, minyak dan komoditas logam. Saham di sektor ini misalnya ITMG, BUMI, PTBA, ADRO (batu bara, MEDC (minyak), TINS (timah), ANTM (nikel dan emas), INCO (nikel).
Karakteristik:
Sejak tahun 2007 sektor pertambangan menjadi primadona bursa saham Indonesia dengan mencatat pertumbuhan tertinggi. Industri ini sangat dipengaruhi harga minyak dunia. Jika harga minyak dunia naik, harga komoditas lain seperti nikel, timah, batubara cenderung ikut menanjak. Pengaruh paling banyak ada di batu bara sebagai substitusi minyak.

Industri Dasar/Kimia
Sektor ini terdiri dari industri hilir, misalnya keramik (MLIA), logam (JKSW), kimia (BUDI), plastik dan kemasan (YPAS), pulp (INKP), kayu (BRPT).
Karakteristik:
Karena merupakan industri hilir, saham di sektor ini bergerak secara independen, biasanya terkait dengan ekspansi atau aksi korporasi. Saham di sektor ini agak sulit ditebak pergerakannya, bahkan banyak saham yang dikuasai ‘bandar’.

Aneka Industri
Industri yang didominasi di sektor aneka industri adalah otomotif dengan motor utama ASII. Lainnya seperti emiten tekstil, elektronik tidak terlalu likuid.
Karakteristik:
Sektor ini sangat tergantung pada bunga bank/inflasi untuk melakjukan ekspansi. Semakin inflasi tinggi, suku bunga tinggi, pertumbuhan penjualan juga menurun. Namun sektor otomotif masih tergolong oleh pertumbuhan penjualan sparepart dan sepeda motor. Dengan masih buruknya layanan kendaraan umum, maka pilihan masyarakat akhirnya juga tetap kembali ke kendaraan pribadi. Sedikit banyak juga terpengaruh nilai tukar rupiah, karena sebagian besar komponen kendaraan bermotor masih diimpor.

Konsumsi           
Sektor ini adalah industri makanan, minuman, toiletries, dan farmasi. Motor utama saham di sektor ini misalnya INDF, ICBP, UNVR. Saham di industri rokok juga termasuk di dalamnya, misalnya GGRM.

Karakter:
Sektor ini dihuni oleh saham defensif. Produknya dibutuhkan oleh masyarakat. Tidak peduli harga mahal atau tidak orang tetap butuh makan, minum, atau mandi. Jadi saham sektor ini biasanya tetap bertumbuh walau krisis. Biasanya para investor membeli saham ini untuk diversifikasi risiko. Sayangnya saham sektor ini rata-rata tidak terlalu likuid, kecuali INDF, ICBP dan UNVR. Jika ditinjau, INDF pun sebenarnya bukan murni perusahaan makanan karena telah mengakuisisi LSIP (penghasil CPO). Sedangkan emiten farmasi seperti KLBF sangat terpengaruh oleh nilai tukar rupiah, karena bahkan baku obat hampir semuanya diimpor, tapi mereka tidak bisa seenaknya menaikkan harga jual obat karena dikontrol pemerintah. Sedangkan industri rokok walaupun mendapat tantangan dari sisi kesehatan dan regulasi, tetap menjanjikan karena jumlah perokok di Indonesia sangat besar.

Properti
Sektor ini dihuni saham perumahan, properti, apartemen, contohnya ASRI, APLN, CTRA, CTRP, SMRA.

Karakter:   
Sangat tergantung pada kondisi ekonomi. Bila inflasi tinggi, bunga kredit naik, penjualan perumahan juga turun, sektor ini juga yang paling pertama terkena pengaruh bila suku bunga naik, setelah bank.

Infrastruktur
Sektor ini bergerak di bidang pembangunan, infrastruktur, jalan, dsb. Contohmya saham JSMR, WIKA, TOTL, CMNP, JSMR. Selain itu juga dihuni oleh saham telekomunikasi seperti TEKM, EXCL, ISAT.
Karakteristik: Sektor ini kadang suka bergerak secara independen. Terpengaruh oleh suku bunga dan kucuran dana proyek dari pemerintah. Secara umum sektor ini termasuk tahan banting. Di saat krisis bisa menjadi pilihan deversifikasi risiko. Bisa juga menjadi piihan untuk jangka panjang. Khusus untuk telekomunikasi, dulu saham seperti TLKM dan ISAT merupakan saham favorit karena booming teknologi dan sifatnya yang semi monopoli. Sayangnya sekarang terbentuk persaingan yang cukup menurunkan keuntungan perusahaan telekomunikasi.

Perbankan/Keuangan
Saham jasa perbankan dan keuangan. Contohnya bank (BMRI, BBRI, BBCA), asuransi (PNLF), penyaluran kredit (ADMF), dan perusahaan efek.

Karakter: Sensitif pada isu ekonomi, suku bunga dan inflasi. Inflasi tinggi akan mengakibatkan daya beli turun. NPL(non performing loan) naik dan penyaluran kredit terhambat. Padahal sektor ini hidup dari penyaluran kredit.

Perdagangan/Jasa/Investasi
Sektor ini dihuni emiten ritel (RALS, MPPA), distribusi, importir barang produksi, hotel, pariwisata. Selain itu juga ada perusahaan investasi, misalnya BNBR, BHIT.
Karakter: Khusus untuk perusahaan ritel tergantung ekonoki makro. Sifatnya juga musiman. Mendekati hari raya biasanya saham ritel ini naik harganya. Untuk saham lain seperti distribusi, hotel dll cenderung bergerak secara independen dan tidal terlalu likuid. Untuk perusahaan investasi pergerakannya lebih banyak karena aksi korporasi atau mengikuti pergerakan anak perusahaannya. Misalnya BNBR akan ikut naik bila anak perusahaannya seperti BUMI cenderung naik.

Pada saat pasar saham bullish, tidak semua sektor industri akan naik dengan persentase yang sama. Selalu ada satu dua sektor yang lebih dominan dibandingkan dengan yang lain. Bila kita berhasil menemukan sektor yang dominan. Yang sedang bertumbuh dengan kuat, maka kita berpotensi mendapatkan keuntungan yang optimal di pasar saham.

Untuk mengetahui sektor mana yang sedang bertumbuh, maka kita harus mengetahui tahap-tahap pertumbuhan suatu industri. Pada prinsipnya, industri dapat tumbuh dengan 4 tahap pertumbuhan sebagai berikut:

Product Life Cycle Stages
  1. Introduction, merupakan tahap awal pertumbuhan. Ditandai dengan investasi yang besar, penjualan masih relatif kecil. Kompetitor masih sedikit atau tidak ada.
  2. Growth, merupakan tahap pertumbuhan. Keuntungan mulai meningkat, industri mulai dikenal dan mulai menarik minat kompetitor baru untuk masuk ke industri ini.
  3. Maturity, merupakan tahap stabil, begitu pula keuntungannya. Biasanya kompetisi sudah sangat ketat dan mendorong kompetisi harga.
  4. Decline, merupakan tahap dimana pertumbuhan industri mulai turun. Ditandai dengan penurunan penjualan. Jika tidak ada inovasi baru, maka industri perlahan-lahan akan mati.
Disarankan agar membeli saham yang industrinya berada di tahap 2 atau 3. Tabel di bawah ini sedikit ulasan tentang kondisi sektor industri Indonesia. Berada di tahap mana industri yang ada di Indonesia tahun 2010. Ulasan ini merupakan pendapat pribadi penulis yang bersifat subyektif.

Sektor
Tahap
Keterangan
Pertanian/Perkebunan
2
Permintaan dunia besar, banyak membuka kebun baru, banyak pemain baru masuk.
Tambang/Minyak/Logam
3
Permintaan dunia besar, harga cenderung stabil dan naik, tinggal tersisa pemain besar, cadangan alam tinggal relatif sedikit (terutama minyak).
Industri dasar/Kimia
4
Kurang mendapat pasokan energi, produksi stabil cenderung turun.
Aneka Industri
3
Tersisa pemain besar, pertumbuhan masih ada karena pertumbuhan daya beli kelas menengah
Konsumsi
2
Banyak pemain baru ritel asing masuk ke Indonesia, pertumbuhan tinggi karena konsumsi Indonesia tinggi
Property
2
Pertumbuhan tinggi karena daya beli kelas menengah, banyak pemain baru masuk.
Infrastruktur
¾
Infrastruktur jalan konstruksi masuk tahap 3 dimana tinggal pemain besar, keuntungan stabil dan masih banyak proyek pemerintah. Telekomuniasi masuk tahap 4 karena persaingan ketat dan banyak banting harga. Keuntungan menurun terutama dari fixed line.
Perbankan/Keuangan
2
Banyak pemain baru terutama dari bank asing. Pertumbuhan industri dan kelas menengah Indonesia akan mendorong jasa mediasi keuangan.
Perdagangan/Jasa/Investasi
3
Pertumbuhan industri perdagangan masih stabil, kompetisi sudah ketat, terutama barang dari luar negeri.

 Catatan khusus:
Seperti diketahui ekonomi global mengalami berbagai siklus, naik atau turun. Saat turun orang menganggapnya mengalami resesi, atau depresi (resesi berkepanjangan). Saat terjadi resesi sektor yang paling cepat terpengaruh adalah Perbankan/Keuangan, diikuti oleh Properti. Namun saat terjadi recovery, sektor yang paling cepat pulih juga kedua sektor tersebut. Sektor lain akan mengikuti.

Saat terjadi resesi, saham apa yang kita pilih? Kita dapat memilih saham yang bertipe defensif seperti saham di sektor Konsumsi dan Infrastruktur. Konsumsi, karena bagaimanapun orang akan butuh makan, harga naik pun pasti akan dibeli. Infrastruktur karena meskipun terjadi resesi ada sisi pengeluaran pemerintah di bidang infrastruktur.

Berlainan dengan kondisi resesi, pada saat bisnis mulai meningkat, perekonomian lancar, sektor yang paling diuntungkan secara langsung adalah sektor Pertambangan/Energi, karena kegiatan ekonomi seperti dioperasikannya pabrik membutuhkan pasokan energi dan bahan baku.


Dalam time frame yang lebih pendek, misalnya harian, pergerakan saham juga tidak selalu berbarengan. Ada kalanya saham perbankan yang ditarik ke atas, sedangkan saham sektor lain turun. Jika kita bisa mengamati pola ini, kita bisa melakukan switching berganti-ganti sehingga menghasilkan profit yang maksimal.

Analisis Makro Ekonomi

Ini dilakukan karena kondisi pasar berkaitan dengan kondisi ekonomi negara yang bersangkutan. Pada saat ekonomi negara sedang bertumbuh, maka pasar saham juga mengalami bullish, begitu pula sebaliknya.

Guna mengatahui ekonomi Indonesia, ada dua indikator penting yang perlu diketahui, yaitu GDP dan inflasi
1.       GDP (Gross Domestic Product) adalah indikator utama untuk mengukur kekuatan ekonomi suatu negara. GDP mengukur nilai output barang dan jasa yang dihasilkan suatu negara, tanpa mempertimbangkan asal (nationality) perusahaan yang menghasilkan barang atau jasa tersebut, selama berada dalam batas-batas negara tersebut. GDP diumumkan dalam persentase, yang menunjukkan pertumbuhan dari kuartal sebelumnya. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi ditunjukkan dengan persentase GDP yang tinggi. Laporan GDP dikeluarkan setiap kuartal (4 kali setahun).
2.       Angka inflasi adalah angka yang mengukur tingkat harga barang dan jasa yang dibeli oleh konsumen. Di Indonesi inflasi sangat dipengaruhi oleh harga makanan pokok. Angka inflasi yang tinggi biasanya kan mendukung Bank Indonesia untuk menaikkan suku bunga.  Ini menyebabkan beban biaya tambahan bagi perusahaan, terutama yang menggunakan uang dari bank untuk biaya operasi atau ekspansi.  Beban biaya tersebut akan mengurangi tingkat keuntungan perusahaan, yang akan memacu turunnya harga saham. Oleh karena itu angka inflasi terlalu besar menjadi momok investor, karena jika BI berusaha meredam inflasi dengan menaikkan suku bungan berakibat harga saham menurun.

Kita tidak perlu melakukan analisis makro yang terlalu rumit, cukup dengan membandingkan besaran GDP dan inflasi dari tahun ke tahun atau per kuartal. Angka-angka tersebut dapat kita dpatkan di website BI (www.bi.go.id), PBS (www.bps.go.id), atau BEI (www.idx.co.id). Untuk contoh tabel berikut menunjukkan angka GDP dan inflasi dari tahun 1998, 2005-2010.

Tahun
Inflasi
GDP
IHSG
2010
6,96%
5,9%
3703
2009
2,78%
4,5%
2534
2008
11,06%
6,1%
1355
2007
6,59%
6,3%
2745
2006
6,6%
6,0%
1813
2005
17,11%
6,1%
1162
1998
58%
-13,5%
398

Pada tabel tahun 1998, saat terjadi krisis finansial terjadi inflasi tinggi hingga mencapai 58% dan GDP turun menjadi -13,5%. Seperti dikertahui pada tahun tsb terjadi IHSG terjun bebas menjadi 398. Harga saham menjadi hanya dua puluh lima rupiah, membuat semua investor depresi. Tahun te rsebut adalah tahun neraka untuk investor. IHSG butuh waktu 3 tahun untuk pulih ke level seperti tahun 1997.    

Tahun 2008 terjadi krisis subprime mortage di AS. IHSG ketiban getahnya hingga jatuh ke level 1100, dan akhir tahun ditutup di level 1355. Hanya dalam waktu setahun IHSG sudah kembali menembus rekor tertinggi di tahun 2007. Meskipun terjadi inflasi tinggi di tahun 2005 dan 2008 ekonomi Indonesia tetap bertumbuh (GDP tetap meningkat). Sehingga efek krisis dapat teredam dengan cepat. IHSG pun cepat pulih.


Seperti kita lihat, inflasi dan GDP memiliki hubungan yang erat dan saling mempengaruhi. Dengan mengantisipasi hal ini, kita dapat mengetahui kapan saat yang tepat untuk melakukan investasi di pasar saham.