Ini dilakukan karena kondisi pasar berkaitan
dengan kondisi ekonomi negara yang bersangkutan. Pada saat ekonomi negara
sedang bertumbuh, maka pasar saham juga mengalami bullish, begitu pula
sebaliknya.
Guna mengatahui ekonomi Indonesia, ada dua
indikator penting yang perlu diketahui, yaitu GDP dan inflasi
1. GDP (Gross Domestic Product) adalah indikator utama untuk mengukur
kekuatan ekonomi suatu negara. GDP mengukur nilai output barang dan jasa yang
dihasilkan suatu negara, tanpa mempertimbangkan asal (nationality) perusahaan
yang menghasilkan barang atau jasa tersebut, selama berada dalam batas-batas
negara tersebut. GDP diumumkan dalam persentase, yang menunjukkan pertumbuhan
dari kuartal sebelumnya. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi ditunjukkan dengan
persentase GDP yang tinggi. Laporan GDP dikeluarkan setiap kuartal (4 kali
setahun).
2. Angka inflasi adalah angka yang mengukur tingkat harga barang dan jasa
yang dibeli oleh konsumen. Di Indonesi inflasi sangat dipengaruhi oleh harga
makanan pokok. Angka inflasi yang tinggi biasanya kan mendukung Bank Indonesia
untuk menaikkan suku bunga. Ini
menyebabkan beban biaya tambahan bagi perusahaan, terutama yang menggunakan
uang dari bank untuk biaya operasi atau ekspansi. Beban biaya tersebut akan mengurangi tingkat
keuntungan perusahaan, yang akan memacu turunnya harga saham. Oleh karena itu
angka inflasi terlalu besar menjadi momok investor, karena jika BI berusaha
meredam inflasi dengan menaikkan suku bungan berakibat harga saham menurun.
Kita tidak perlu melakukan analisis makro yang
terlalu rumit, cukup dengan membandingkan besaran GDP dan inflasi dari tahun ke
tahun atau per kuartal. Angka-angka tersebut dapat kita dpatkan di website BI (www.bi.go.id), PBS (www.bps.go.id), atau BEI (www.idx.co.id). Untuk
contoh tabel berikut menunjukkan angka GDP dan inflasi dari tahun 1998,
2005-2010.
Tahun
|
Inflasi
|
GDP
|
IHSG
|
2010
|
6,96%
|
5,9%
|
3703
|
2009
|
2,78%
|
4,5%
|
2534
|
2008
|
11,06%
|
6,1%
|
1355
|
2007
|
6,59%
|
6,3%
|
2745
|
2006
|
6,6%
|
6,0%
|
1813
|
2005
|
17,11%
|
6,1%
|
1162
|
1998
|
58%
|
-13,5%
|
398
|
Pada tabel tahun 1998, saat terjadi krisis
finansial terjadi inflasi tinggi hingga mencapai 58% dan GDP turun menjadi
-13,5%. Seperti dikertahui pada tahun tsb terjadi IHSG terjun bebas menjadi
398. Harga saham menjadi hanya dua puluh lima rupiah, membuat semua investor
depresi. Tahun te rsebut adalah tahun neraka untuk investor. IHSG butuh waktu 3
tahun untuk pulih ke level seperti tahun 1997.
Tahun 2008 terjadi krisis subprime mortage di AS. IHSG ketiban getahnya hingga jatuh ke level
1100, dan akhir tahun ditutup di level 1355. Hanya dalam waktu setahun IHSG
sudah kembali menembus rekor tertinggi di tahun 2007. Meskipun terjadi inflasi
tinggi di tahun 2005 dan 2008 ekonomi Indonesia tetap bertumbuh (GDP tetap
meningkat). Sehingga efek krisis dapat teredam dengan cepat. IHSG pun cepat
pulih.
Seperti kita lihat, inflasi dan GDP memiliki
hubungan yang erat dan saling mempengaruhi. Dengan mengantisipasi hal ini, kita
dapat mengetahui kapan saat yang tepat untuk melakukan investasi di pasar
saham.