Setiap saham yang ada di BEI dapat dipilah ke
dalam berbagai sektor. Dengan memahami karakteristik
masing-masing sektor kita akan dapat mengantisipasi jika ada sesuatu hal yang
bisa mempengaruhi sektor tersebut.
Berikut adalah karakter masing-masing sektor
dan berbagai hal yang mempengaruhinya:
Pertanian/Perkebunan
Perusahaan di sektor ini bergerak di bidang
peertanian, perkebunan, perikanan atau peternakan. Saham di sektor ini terutama
perkebunan khususnya kelapa sawit,seperti AALI, LSIP, UNSP, SGRO. Yang lain
adalah BISI (jagung)
Karakter: sektor ini sangat tergantung pada
harga komoditas di luar negeri (baik Crude Palm Oil/CPO atau jagung). Secara
jangka panjang, sektor ini memiliki pertumbuhan yang stabil, karena CPO
dibutuhkan di seluruh dunia sebagai bahan pangan (minyak goreng) dan biofuel.
Indonesia juga merupakan salah satu andalan ekspor Indonesia. Cuma sayangnya
penjualan CPO banyak dikontrol oleh pemerintah (dengan adanya pajak ekspor, dll).
Semakin tinggi pajak ekspor, produsen cenderung menahan ekspor dan menurunkan
target penjualan. Sebagai tambahan, CPO juga terpengaruh harga minyak dunia
sejak menjadi substitusi minyak (biofuel).
Harga CPO dapat dilihat di:
harga minyak dan logam dapat dilihat di:
Pertambangan/Minyak/Logam
Sektor ini terdiri dari saham-saham di bidang
pertambangan, minyak dan komoditas logam. Saham di sektor ini misalnya ITMG,
BUMI, PTBA, ADRO (batu bara, MEDC (minyak), TINS (timah), ANTM (nikel dan
emas), INCO (nikel).
Karakteristik:
Sejak tahun 2007 sektor pertambangan menjadi
primadona bursa saham Indonesia dengan mencatat pertumbuhan tertinggi. Industri
ini sangat dipengaruhi harga minyak dunia. Jika harga minyak dunia naik, harga
komoditas lain seperti nikel, timah, batubara cenderung ikut menanjak. Pengaruh
paling banyak ada di batu bara sebagai substitusi minyak.
Industri Dasar/Kimia
Sektor ini terdiri dari industri hilir,
misalnya keramik (MLIA), logam (JKSW), kimia (BUDI), plastik dan kemasan
(YPAS), pulp (INKP), kayu (BRPT).
Karakteristik:
Karena merupakan industri hilir, saham di
sektor ini bergerak secara independen, biasanya terkait dengan ekspansi atau
aksi korporasi. Saham di sektor ini agak sulit ditebak pergerakannya, bahkan
banyak saham yang dikuasai ‘bandar’.
Aneka Industri
Industri yang didominasi di sektor aneka
industri adalah otomotif dengan motor utama ASII. Lainnya seperti emiten
tekstil, elektronik tidak terlalu likuid.
Karakteristik:
Sektor ini sangat tergantung pada bunga
bank/inflasi untuk melakjukan ekspansi. Semakin inflasi tinggi, suku bunga
tinggi, pertumbuhan penjualan juga menurun. Namun sektor otomotif masih
tergolong oleh pertumbuhan penjualan sparepart dan sepeda motor. Dengan masih
buruknya layanan kendaraan umum, maka pilihan masyarakat akhirnya juga tetap kembali
ke kendaraan pribadi. Sedikit banyak juga terpengaruh nilai tukar rupiah,
karena sebagian besar komponen kendaraan bermotor masih diimpor.
Konsumsi
Sektor ini adalah industri makanan, minuman,
toiletries, dan farmasi. Motor utama saham di sektor ini misalnya INDF, ICBP,
UNVR. Saham di industri rokok juga termasuk di dalamnya, misalnya GGRM.
Karakter:
Sektor ini dihuni oleh saham defensif.
Produknya dibutuhkan oleh masyarakat. Tidak peduli harga mahal atau tidak orang
tetap butuh makan, minum, atau mandi. Jadi saham sektor ini biasanya tetap
bertumbuh walau krisis. Biasanya para investor membeli saham ini untuk
diversifikasi risiko. Sayangnya saham sektor ini rata-rata tidak terlalu
likuid, kecuali INDF, ICBP dan UNVR. Jika ditinjau, INDF pun sebenarnya bukan
murni perusahaan makanan karena telah mengakuisisi LSIP (penghasil CPO).
Sedangkan emiten farmasi seperti KLBF sangat terpengaruh oleh nilai tukar
rupiah, karena bahkan baku obat hampir semuanya diimpor, tapi mereka tidak bisa
seenaknya menaikkan harga jual obat karena dikontrol pemerintah. Sedangkan
industri rokok walaupun mendapat tantangan dari sisi kesehatan dan regulasi,
tetap menjanjikan karena jumlah perokok di Indonesia sangat besar.
Properti
Sektor ini dihuni saham perumahan, properti,
apartemen, contohnya ASRI, APLN, CTRA, CTRP, SMRA.
Karakter:
Sangat tergantung pada kondisi ekonomi. Bila
inflasi tinggi, bunga kredit naik, penjualan perumahan juga turun, sektor ini
juga yang paling pertama terkena pengaruh bila suku bunga naik, setelah bank.
Infrastruktur
Sektor ini bergerak di bidang pembangunan,
infrastruktur, jalan, dsb. Contohmya saham JSMR, WIKA, TOTL, CMNP, JSMR. Selain
itu juga dihuni oleh saham telekomunikasi seperti TEKM, EXCL, ISAT.
Karakteristik: Sektor ini kadang suka bergerak
secara independen. Terpengaruh oleh suku bunga dan kucuran dana proyek dari
pemerintah. Secara umum sektor ini termasuk tahan banting. Di saat krisis bisa
menjadi pilihan deversifikasi risiko. Bisa juga menjadi piihan untuk jangka
panjang. Khusus untuk telekomunikasi, dulu saham seperti TLKM dan ISAT
merupakan saham favorit karena booming teknologi dan sifatnya yang semi
monopoli. Sayangnya sekarang terbentuk persaingan yang cukup menurunkan
keuntungan perusahaan telekomunikasi.
Perbankan/Keuangan
Saham jasa perbankan dan keuangan. Contohnya
bank (BMRI, BBRI, BBCA), asuransi (PNLF), penyaluran kredit (ADMF), dan
perusahaan efek.
Karakter: Sensitif pada isu ekonomi, suku
bunga dan inflasi. Inflasi tinggi akan mengakibatkan daya beli turun. NPL(non
performing loan) naik dan penyaluran kredit terhambat. Padahal sektor ini hidup
dari penyaluran kredit.
Perdagangan/Jasa/Investasi
Sektor ini dihuni emiten ritel (RALS, MPPA),
distribusi, importir barang produksi, hotel, pariwisata. Selain itu juga ada perusahaan
investasi, misalnya BNBR, BHIT.
Karakter: Khusus untuk perusahaan ritel
tergantung ekonoki makro. Sifatnya juga musiman. Mendekati hari raya biasanya
saham ritel ini naik harganya. Untuk saham lain seperti distribusi, hotel dll
cenderung bergerak secara independen dan tidal terlalu likuid. Untuk perusahaan
investasi pergerakannya lebih banyak karena aksi korporasi atau mengikuti
pergerakan anak perusahaannya. Misalnya BNBR akan ikut naik bila anak
perusahaannya seperti BUMI cenderung naik.
Pada saat pasar saham bullish, tidak semua
sektor industri akan naik dengan persentase yang sama. Selalu ada satu dua
sektor yang lebih dominan dibandingkan dengan yang lain. Bila kita berhasil
menemukan sektor yang dominan. Yang sedang bertumbuh dengan kuat, maka kita
berpotensi mendapatkan keuntungan yang optimal di pasar saham.
Untuk mengetahui sektor mana yang sedang
bertumbuh, maka kita harus mengetahui tahap-tahap pertumbuhan suatu industri.
Pada prinsipnya, industri dapat tumbuh dengan 4 tahap pertumbuhan sebagai
berikut:
Product Life Cycle Stages:
- Introduction, merupakan tahap awal pertumbuhan. Ditandai dengan investasi yang besar, penjualan masih relatif kecil. Kompetitor masih sedikit atau tidak ada.
- Growth, merupakan tahap pertumbuhan. Keuntungan mulai meningkat, industri mulai dikenal dan mulai menarik minat kompetitor baru untuk masuk ke industri ini.
- Maturity, merupakan tahap stabil, begitu pula keuntungannya. Biasanya kompetisi sudah sangat ketat dan mendorong kompetisi harga.
- Decline, merupakan tahap dimana pertumbuhan industri mulai turun. Ditandai dengan penurunan penjualan. Jika tidak ada inovasi baru, maka industri perlahan-lahan akan mati.
Disarankan agar membeli saham yang industrinya
berada di tahap 2 atau 3. Tabel di bawah ini sedikit ulasan tentang kondisi
sektor industri Indonesia. Berada di tahap mana industri yang ada di Indonesia
tahun 2010. Ulasan ini merupakan pendapat pribadi penulis yang bersifat
subyektif.
|
Sektor
|
Tahap
|
Keterangan
|
|
Pertanian/Perkebunan
|
2
|
Permintaan dunia besar, banyak membuka kebun
baru, banyak pemain baru masuk.
|
|
Tambang/Minyak/Logam
|
3
|
Permintaan dunia besar, harga cenderung
stabil dan naik, tinggal tersisa pemain besar, cadangan alam tinggal relatif
sedikit (terutama minyak).
|
|
Industri dasar/Kimia
|
4
|
Kurang mendapat pasokan energi, produksi
stabil cenderung turun.
|
|
Aneka Industri
|
3
|
Tersisa pemain besar, pertumbuhan masih ada karena
pertumbuhan daya beli kelas menengah
|
|
Konsumsi
|
2
|
Banyak pemain baru ritel asing masuk ke
Indonesia, pertumbuhan tinggi karena konsumsi Indonesia tinggi
|
|
Property
|
2
|
Pertumbuhan tinggi karena daya beli kelas
menengah, banyak pemain baru masuk.
|
|
Infrastruktur
|
¾
|
Infrastruktur jalan konstruksi masuk tahap 3
dimana tinggal pemain besar, keuntungan stabil dan masih banyak proyek
pemerintah. Telekomuniasi masuk tahap 4 karena persaingan ketat dan banyak
banting harga. Keuntungan menurun terutama dari fixed line.
|
|
Perbankan/Keuangan
|
2
|
Banyak pemain baru terutama dari bank asing.
Pertumbuhan industri dan kelas menengah Indonesia akan mendorong jasa mediasi
keuangan.
|
|
Perdagangan/Jasa/Investasi
|
3
|
Pertumbuhan industri perdagangan masih
stabil, kompetisi sudah ketat, terutama barang dari luar negeri.
|
Catatan
khusus:
Seperti diketahui ekonomi global mengalami
berbagai siklus, naik atau turun. Saat turun orang menganggapnya mengalami
resesi, atau depresi (resesi berkepanjangan). Saat terjadi resesi sektor yang
paling cepat terpengaruh adalah Perbankan/Keuangan, diikuti oleh Properti.
Namun saat terjadi recovery, sektor
yang paling cepat pulih juga kedua sektor tersebut. Sektor lain akan mengikuti.
Saat terjadi resesi, saham apa yang kita
pilih? Kita dapat memilih saham yang bertipe defensif seperti saham di sektor
Konsumsi dan Infrastruktur. Konsumsi, karena bagaimanapun orang akan butuh
makan, harga naik pun pasti akan dibeli. Infrastruktur karena meskipun terjadi
resesi ada sisi pengeluaran pemerintah di bidang infrastruktur.
Berlainan dengan kondisi resesi, pada saat
bisnis mulai meningkat, perekonomian lancar, sektor yang paling diuntungkan
secara langsung adalah sektor Pertambangan/Energi, karena kegiatan ekonomi
seperti dioperasikannya pabrik membutuhkan pasokan energi dan bahan baku.
Dalam time
frame yang lebih pendek, misalnya harian, pergerakan saham juga tidak
selalu berbarengan. Ada kalanya saham perbankan yang ditarik ke atas, sedangkan
saham sektor lain turun. Jika kita bisa mengamati pola ini, kita bisa melakukan
switching berganti-ganti sehingga
menghasilkan profit yang maksimal.