Ada 3 gerakan air laut yang akan kita bahas yaitu: arus
laut, gelombang laut, dan pasang surut air laut.
1. Arus laut
Arus laut (sea current) adalah gerakan massa air laut dari
satu tempat ke tempat lain baik secara vertikal (gerak ke atas) maupun secara
horizontal (gerakan ke samping). Contoh-contoh gerakan itu seperti gaya
coriolis, yaitu gaya yang membelok arah arus dari tenaga rotasi bumi.
Pembelokan itu akan mengarah ke kanan di belahan bumi utara dan mangarah ke
kiri di belahan bumi selatan. Gaya ini yang mengakibatkan adanya aliran gyre
yang searah jarum jam (ke kanan) pada belahan bumi utara dan berlawanan dengan
arah jarum jam di belahan bumi selatan. Perubahan arah arus dari pengaruh angin
ke pengaruh gaya coriolis dikenal dengan spiral ekman. Menurut letaknya arus
dibedakan menjadi dua yaitu arus atas dan arus bawah. Arus atas adalah arus
yang bergerak di permukaan laut. Sedangkan arus bawah adalah arus yang bergerak
di bawah permukaan laut. Faktor pembangkit arus permukaan disebabkan oleh adanya
angin yang bertiup diatasnya. Tenaga angin memberikan pengaruh terhadap arus
permukaan (atas) sekitar 2% dari kecepatan angin itu sendiri. Kecepatan arus
ini akan berkurang sesuai dengan makin bertambahnya kedalaman perairan sampai
pada akhirnya angin tidak berpengaruh pada kedalaman 200 meter. Oleh karena
dibangkitkan angin, arah arus laut permukaan (atas) mengikuti arah angin yang
ada. Khususnya di Asia Tenggara karena arah angin musim sangat kentara
perubahannya antara musim barat dan musim timur maka arus laut permukaan juga
banyak dipengaruhinya. Arus musim barat ditandai oleh adanya aliran air dari
arah utara melalui laut Cina bagian atas, laut Jawa, dan laut Flores. Adapun
pada musim timur sebaliknya mengalir dari arah selatan. Selain pergerakan arah
arus mendatar, angin dapat menimbulkan arus air vertikal yang dikenal dengan
upwelling dan sinking di daerah-daerah tertentu. Proses upwelling adalah suatu
proses massa air yang didorong ke atas dari kedalaman sekitar 100 sampai 200
meter. Angin yang mendorong lapisan air permukaan mengakibatkan kekosongan di
bagian atas, akibatnya air yang berasal dari bawah menggantikan kekosongan yang
berada di atas. Oleh karena air yang dari kedalaman lapisan belum berhubungan
dengan atmosfer, maka kandugan oksigennya rendah dan suhunya lebih dingin
dibandingkan dengan suhu air permukaan lainnya. Walaupun sedikit oksigen, arus
ini mengandung larutan nutrien seperti nitrat dan fosfat sehingga cederung
mengandung banyak fitoplankton. Fitoplankton merupakan bahan dasar rantai
makanan di lautan, dengan demikian di daerah upwelling umumnya kaya ikan.
Gejala upwelling dapat dipantau oleh satelit cuaca NOAA dan dijadikan sebagai
tanda akan dimulainya musim panen ikan 14 hari setelah upwelling terjadi. Bagi
nelayan modern dapat memanfaatkan informasi NOAA untuk persiapan panen.
Pencurian ikan di berbagai laut di Indonesia umumnya para pencuri memantau
gejala upwelling. Pada saat upwelling mereka pura-pura mencari ikan di daerah
yang jauh dari perairan laut. Akan tetapi 14 hari kemudian mereka meluncur
dengan kekuatan penuh menuju perairan Indonesia. Dengan gesit mereka mengeruk
ikan yang lagi banyak-banyaknya. Mereka lolos dari pengejaran patroli perairan
Indonesia karena perlengkapan kita belum dapat melacak keberadaan mereka.
Sinking merupakan proses kebalikan dari upwelling, yaitu gerakan air yang
tenggelam ke arah bawah di perairan pantai.
Berikut ini adalah persebaran arus laut di dunia, coba Anda
perhatikaan nama-nama arus yang terdapat di samudra-samudra, dan perhatikan
pula arah gerakannya dibelahan bumi utara dan belahan bumi selatan berbeda!
a. Di Samudera
Pasifik
1) Di sebelah utara khatulistiwa
(a) Arus Khatulistiwa Utara, merupakan arus panas yang
mengalir menuju ke arah barat sejajar dengan garis khatulistiwa dan ditimbulkan
serta didorong oleh angin pasat timur laut.
(b) Arus Kuroshio, merupakan lanjutan arus khatulistiwa
utara karena setelah sampai di dekat Kepulauan Filipina, arahnya menuju ke utara.
Arus ini merupakan arus panas yang mengalir dari utara Kepulauan Filipina,
menyusur sebelah timur Kepulauan Jepang dan terus ke pesisir Amerika Utara
(terutama Kanada). Arus ini didorong oleh angin barat.
(c) Arus Kalifornia, mengalir di sepanjang pesisir barat
Amerika Utara ke arah selatan menuju ke khatulistiwa. Arus ini merupakan
lanjutan arus kuroshio, termasuk arus menyimpang (pengaruh daratan) dan arus
dingin.
(d) Arus Oyashio, merupakan arus dingin yang didorong oleh
angin timur dan mengalir dari selat Bering menuju ke selatan dan berakhir di
sebelah timur Kepulauan Jepang karena ditempat ini arus tersebut bertemu dengan
arus Kuroshio (terhambat oleh kuroshio). Di tempat pertemuaan arus dingin Oyashio
dengan arus panas Kuroshio terdapat daerah perikanan yang kaya, sebab plankton-plankton
yang terbawa oleh arus Oyashio berhenti pada daerah pertemuaan arus panas
Kuroshio yang hangat dan tumbuh subur.
2) Di sebelah selatan khatulistiwa
(a) Arus Khatulistiwa Selatan, merupakan arus panas yang
mengalir menuju ke barat sejajar dengan garis khatulistiwa. Arus ini ditimbulkan
atau didorong oleh angin pasat tenggara.
(b) Arus Humboldt atau Arus Peru, merupakan lanjutan dari
sebagian arus angin barat yang mengalir di sepanjang barat Amerika Selatan menyusur
ke arah utara. Arus ini merupakan arus menyimpang serta didorong oleh angin
pasat tenggara dan termasuk arus dingin.
(c) Arus Australia Timur, merupakan lanjutan arus
khatulistiwa selatan yang mengalir di sepanjang pesisir Australia Timur dari
arah utara ke selatan (sebelah timur Great Barrier Reef).
(d) Arus Angin Barat, merupakan lanjutan dari sebagian arus
Australia timur yang mengalir menuju ke timur (pada lintang 30 ° - 40 °LS) dan
sejajar dengan garis ekuator. Arus ini didorong oleh angin barat.
3) Di sepanjang garis khatulistiwa
Arus Khatulistiwa Utara dan Arus Khatulistiwa Selatan
setelah bergerak,meninggalkan tempat yang tinggi airnya lebih rendah dari sekitarnya,
sehingga segera tempat ini diisi oleh aliran air laut baru yang membentuk arus.
Arus pengisi atau arus perata ini disebut “arus kompensasi”. Contohnya adalah
Arus Sungsang Khatulistiwa, yang mengalir sepanjang garis khatulistiwa ke timur
dan merupakan arus panas.
b. Di Samudera
Atlantik
1) Di sebelah utara khatulistiwa
(a) Arus Khatulistiwa Utara, merupakan arus panas yang
mengalir menuju ke barat sejajar dengan garis khatulistiwa. Arus ini
ditimbulkan dan didorong angin pasat timur laut.
(b) Arus Teluk Gulfstream, merupakan arus menyimpang yang
segera diperkuat oleh dorongan angin besar dan merupakan arus panas. Arus
khatulistiwa utara (ditambah dengan sebagian arus khatulistiwa selatan) semula
masuk ke Laut Karibia terus ke Teluk Mexiko dan keluar dari teluk ini melalui
Selat Florida(sebagai Arus Florida). Arus Florida yang segera bercampur dengan
Arus Antillen merupakan arus besar yang mengalir di sepanjang pantai timur Amerika
Serikat ke arah Timur. Arus inilah yang disebut arus teluk sebab sebagian dari
arus ini keluar dari teluk Meksiko.
(c) Arus Tanah Hijau Timur atau Arus Greenland Timur,
merupakan arus dingin yang mengalir dari laut Kutub Utara ke selatan menyusur
pantai timur Tanah Hijau. Arus ini didorong oleh angin timur (yang berasal dari
daerah kutub).
(d) Arus Labrador, berasal dari laut Kutub Utara yang
mengalir ke selatan menyusuri pantai timur Labrador. Arus ini didorong oleh angin
timur dan merupakan arus dingin, yang pada umumnya membawa “gunung es” yang
ikut dihanyutkan.
(e) Arus Canari, merupakan arus menyimpang dan termasuk arus
dingin. Arus ini merupakan lanjutan sebagian arus teluk yang mengubah arahnya
setelah pengaruh daratan Spanyol dan mengalir ke arah selatan menyusur pantai
barat Afrika Utara.
2) Di sebelah selatan khatulistiwa
(a) Arus Khatulistiwa Selatan, merupakan arus panas yang
mengalir menuju ke barat, sejajar dengan garis khatulistiwa. Sebagian dari arus
ini masuk ke utara (yang bersama-sama dengan arus Khatulistiwa Utara ke Laut
Karibia) sedangkan yang sebagian lagi membelok ke selatan. Arus ini ditimbulkan
dan didorong oleh angin pasat tenggara.
(b) Arus Brazilia, merupakan lanjutan dari sebagian arus
angin barat yang mengalir ke arah selatan menyusuri pantai timur Amerika Selatan
(khususnya Brazilia). Arus ini termasuk arus menyimpang dan merupakan arus
panas.
(c) Arus Benguela, merupakan lanjutan dari sebagian arus
angin barat, yang mengalir ke arah utara menyusuri pantai barat Afrika Selatan.
Arus ini merupakan arus dingin, yang akhirnya kembali menjadi Arus Khatulistiwa
Selatan.
(d) Arus angin barat, merupakan lanjutan dari sebagian Arus
Brazilia yang mengalir ke arah timur (pada lintang 30o - 40oLS)
sejajar dengan garis ekuator. Arus ini didorong oleh angin barat dan merupakan
arus dingin.
c. Di Samudera Hindia
1) Di sebelah utara khatulistiwa
Arus laut samudera ini keadaannya berbeda dengan samudera
lain, sebab arah gerakan arus tak tetap dalam setahun melainkan berganti arah
dalam ½ tahun, sesuai dengan gerakan angin musim yang menimbulkannya. Arus-arus
tersebut adalah sebagai berikut.
(a) Arus Musim Barat Daya, merupakan arus panas yang
mengalir menuju ke timur menyusuri Laut Arab dan Teluk Benguela. Arus ini
ditimbulkan dan didorong oleh angin musim barat daya. Arus ini berjalan kurang
kuat sebab mendapa hambatan dari gerakan angin pasat timur laut.
(b) Arus Musim Timur Laut, merupakan arus panas yang
mengalir menuju ke barat menyusuri Teluk Benguela dan Laut Arab. Arus ini
ditimbulkan dan didorong oleh angin musim timur laut. Arus yang terjadi
bergerak agak kuat sebab di dorong oleh dua angin yang saling memperkuat, yaitu
angin pasat timur laut dan angin musim timur laut.
2) Di sebelah selatan khatulistiwa
(a) Arus Khatulistiwa Selatan, merupakan arus panas yang
mengalir menuju ke barat sejajar dengan garis khatulistiwa yang nantinya pecah menjadi
dua (Arus Maskarena dan Arus Agulhas setelah sampai di timur Madagaskar). Arus
ini ditimbulkan dan didorong oleh angin pasat tenggara.
(b) Arus Maskarena dan Arus Agulhas, merupakan arus
menyimpang dan merupakan arus panas. Arus ini juga merupakan lanjutan dari
pecahan Arus Khatulistiwa Selatan. Arus Maskarena mengalir menuju ke selatan,
menyusuri pantai Pulau Madagaskar Timur. Arus Agulhas juga mengalir menuju ke
selatan menyusuri pantai Pulau Madagaskar Barat.
(c) Arus angin barat, merupakan lanjutan dari sebagian arus
angin barat, yang mengalir ke arah utara menyusur pantai barat Benua Australia.
Arus ini termasuk arus menyimpang dan merupakan arus dingin yang akhirnya
kembali menjadi Arus Khatulistiwa Selatan.
2. Gelombang laut
Gelombang laut atau ombak merupakan gerakan air laut yang
paling umum dan mudah kita amati. Gelombang terjadi karena beberapa sebab,
antara lain:
a. Karena angin. Gelombang terjadi karena adanya gesekan
angin di permukaan, oleh karena itu arah gelombang sesuai dengan arah angin.
b. Karena menabrak pantai. Gelombang yang sampai ke pantai
akan terjadi hempasan dan pecah. Air yang pacah itu akan terjadi arus balik dan
membentuk gelombang, oleh karena itu arahnya akan berlawanan dengan arah
datangnya gelombang
c. Karena gempa bumi. Gelombang laut terjadi karena adanya
gempa di dasar laut. Gempa terjadi karena adanya gunung laut yang meletus atau
adanya getaran/pergeseran kulit bumi di dasar laut. Gelombang yang ditimbulkan biasanya
besar dan disebut dengan gelombang “tsunami”. Contoh ketika Gunung Krakatau
meletus 1883, menyebabkan terjadinya gelombang tsunami yang banyak menimbulkan
kerugian.
Gerakan permukaan gelombang dapat dikelompokan sebagai
berikut:
a. Gerak osilasi, yaitu gerak gelombang akibat molekul air
bergerak melingkar. Gerak osilasi biasanya terjadi di laut lepas, yaitu pada
bagian laut dalam. Adanya gelombang dibangkitkan oleh kecepatan angin, lamanya
angin bertiup, luas daerah yang ditiup angin (fetch), dan kedalaman laut.
Gelombang ini memiliki tinggi dan lembah gelombang. Puncak gelombang akan pecah
di dekat pantai yang disebut breaker atau gelora.
b. Gerak translasi, yaitu gelombang osilasi yang telah pecah
lalu seperti memburu garis pantai, bergerak searah dengan gerak gelombang tanpa
diimbangi gerakan mundur. Gelombang ini tidak memiliki puncak dan lembah yang
kemucian dikenal dengan istilah surf. Gelombang ini dimanfaatkan untuk olah
raga surfing.
c. Gerak swash dan back swash berbentuk gelombang telah
menyentuh garis pantai. Kedatangan gelombang disebut swash, sedangkan ketika
kembali disebut back swash.
3. Pasang surut air laut (ocean ride)
Pasang naik dan pasang surut merupakan bentuk gerakan air
laut yang terjadi karena pengaruh gaya tarik bulan dan matahari terhadap bumi.
Hal ini didasarkan pada hukum Newton yang berbunyi : “Dua benda akan terjadi
saling tarik menarik dengan kekuatan yang berbanding terbalik dengan pangkat
dua jaraknya”. Berdasarkan hukum tersebut berarti makin jauh jaraknya makin
kecil daya tariknya, karena jarak dari bumi ke matahari lebih jauh dari pada
jarak ke bulan, maka pasang surut permukaan air laut lebih banyak dipengaruhi
oleh bulan. Ada dua macam pasang surut :
1) Pasang Purnama, ialah peristiwa terjadinya pasang naik
dan pasang surut tertinggi (besar). Pasang besar terjadi pada tanggal 1
(berdasarkan kalender bulan)dan pada tanggal 14 (saat bulan purnama). Pada
kedua tanggal tersebut posisi bumi-bulan-matahari berada pada satu garis (konjungsi)
sehingga kekuatan gaya tarik bulan dan matahari berkumpul menjadi satu menarik
permukaan bumi. Permukaan bumi yang menghadap ke bulan mengalami pasang naik
besar.
2) Pasang Perbani, ialah peristiwa terjadinya pasang naik
dan pasang surut terendah (kecil). Pasang kecil ini terjadi pada tanggal 7 dan
21 kalender bulan. Pada kedua tanggal tersebut posisi matahari – bulan – bumi membentuk
susut 90 °. Gaya tarik bulan dan matahari terhadap bumi berlawanan arah
sehingga kekuatannya menjadi berkurang (saling melemahkan) dan terjadilah
pasang terendah.
B. Kualitas Air Laut
Air Laut dipermukaan bumi dapat dibedakan antara wilayah
laut yang satu dengan wilayah laut yang lain. Perbedaan tersebut dapat dilihat
dari suhu, kecerahan, dan salinitas.
1. Suhu air laut
Keadaan suhu perairan laut banyak ditentukan oleh penyinaran
matahari yang disebut proses insolation. Pemanasan di daerah
tropik/khatulistiwa akan berbeda dengan hasil pemanasan di daerah lintang
tengah atau kutub. Oleh karena bentuk bumi bulat, di daerah tropis sinar
matahari jatuh hampir tegak lurus, sedangkan di daerah kutub umumnya menerima
sinar matahari dengan sinar yang condong. Sinar jatuh condong bidang jatuhnya
akan lebih luas dari pada sinar jatuh tegak. Selain oleh kemiringan sinar
jatuh, di daerah kutub banyak sinar dipantulkan kembali ke atmosfer sehingga
semakin menambah dingin keadaan suhu di daerah kutub. Namun walaupun di daerah
tropis lebih panas dari kutub, daerah tropis memiliki suhu air lebih rendah
dibandingkan suhu air laut di daerah subtropis. Hal ini karena faktor keawanan
yang menutupi di daerah tropis banyak awan yang menutupi dibandingkan dengan di
daerah subtropik. Awan banyak menyerap sinar datang dan menimbulkan nilai
kelembaban udara yang tinggi. Adapun di daerah subtropik, insolation yang
tinggi tidak diikuti oleh kelembaban dan keawanan sehingga di daerah ini lebih
panas. Berdasarkan kedalamannya, sinar matahari banyak diserap oleh lapisan permukaan
laut hingga kedalaman antara 200 – 1000 meter suhu turun secara drastis, dan
pada daerah yang terdalam bisa mencapai suhu kurang dari 2 °C.
Pola suhu di perairan laut pada umumnya:
a. Makin ke kutub makin dingin.
Pada permukaan samudera, umumnya dari khatulistiwa
berangsur-angsur dingin sampai ke laut-laut kutub, di khatulistiwa ± 28° C,
pada laut-laut kutub antara 0° sampai 2° C.
b. Makin ke bawah makin dingin
Panas matahari hanya berpengaruh di lapisan atas saja. Di
dasar samudera rata-rata 2oC (juga di dasar samudera daerah tropik). Sebab yang
utama adalah karena air dingin yang berasal dari daerah kutub mengalir kearah
khatulistiwa. Laut yang tidak dipengaruhi arus dingin suhunya tinggi. Laut
Tengah misalnya sampai jauh ke bawah, suhunya 130 C (karena ambang Jibraltar
menghambat arus dingin dari Atlantik).
2. Kecerahan Air Laut
Kecerahan air laut ditentukan oleh kekeruhan air laut itu
sendiri dari kandungan sedimen yang dibawa oleh aliran sungai. Pada laut yang
keruh, radiasi sinar matahari yang dibutuhkan untuk proses fotosintesis
tumbuhan laut akan kurang dibandingkan dengan air laut jernih. Pada perairan
laut yang dalam dan jernih, fotosintesis tumbuhan itu mencapai 200 meter,
sedangkan jika keruh hanya mencapai 15 – 40 meter. Laut yang jernih merupakan
lingkungan yang baik untuk tumbuhnya terumbu karang dari cangkang binatang
koral. Air laut juga menampakan warna yang berbeda-beda tergantung pada zatzat organik
maupun anorganik yang ada.
Ada beberapa warna-warna air laut karena beberapa sebab:
a. Pada umumnya lautan berwarna biru, hal ini disebabkan
oleh sinar matahari yang bergelombang pendek (sinar biru) dipantulkan lebih
banyak dari pada sinar lain.
b. Warna kuning, karena di dasarnya terdapat lumpur kuning,
misalnya sungai kuning di Cina.
c. Warna hijau, karena adanya lumpur yang diendapkan dekat
pantai yang memantulkan warna hijau dan juga karena adanya planton-planton
dalam jumlah besar.
d. Warna putih, karena permukaannya selalu tertutup es
seperti di laut kutub utara dan selatan.
e. Warna ungu, karena adanya organisme kecil yang
mengeluarkan sinarsinar fosfor seperti di laut ambon.
f. Warna hitam, karena di dasarnya terdapat lumpur hitam
seperti di laut hitam
g. Warna merah, karena banyaknya binatang-binatang kecil
berwarna merah yang terapung-apung.
3. Salinitas Air Laut
Salinitas atau kadar garam ialah banyaknya garam-garaman
(dalam gram) yang terdapat dalam 1 Kg (1000 gr) air laut, yang dinyatakan
dengan ‰ atau perseribu. Salinitas umumnya stabil, walaupun di beberapa tempat
terjadi fluktuasi. Laut Mediterania dan Laut Merah dapat mencapai 39 ‰ – 40 ‰
yang disebabkan banyak penguapan, sebaliknya dapat turut dengan drastis jika
turun hujan. Laut yang memiliki kadar garam yang rendah banyak dijumpai di
daerahdaerah yang banyak muara sungainya. Pada musim barat, laut di di Asia Tenggara
mulai dari bulan Desember – Mei di Teluk Thailand dan bagian timur laut Pantai
Sumatera mempunyai nilai kadar garam yang rendah. Tinggi rendahnya kadar garam
(salinitas) sangat tergantung kepada factor-faktor berikut :
a. Penguapan, makin besar tingkat penguapan air laut di
suatu wilayah, maka salinitasnya tinggi dan sebaliknya pada daerah yang rendah
tingkat penguapan air lautnya, maka daerah itu rendah kadar garamnya.
b. Curah hujan, makin besar/banyak curah hujan di suatu
wilayah laut maka salinitas air laut itu akan rendah dan sebaliknya makin
sedikit/kecil curah hujan yang turun salinitas akan tinggi.
c. Banyak sedikitnya sungai yang bermuara di laut tersebut,
makin banyak sungai yang bermuara ke laut tersebut maka salinitas laut tersebut
akan rendah, dan sebaliknya makin sedikit sungai yang bermuara ke laut tersebut
maka salinitasnya akan tinggi