A. Bentang Alam Akibat Proses Pengikisan dan Proses Pengendapan
1. Pelapukan
Pelapukan adalah proses pegrusakan atau penghancuran kulit
bumi oleh tenaga eksogen. Pelapukan di daerah daerah berbeda beda tergantung
unsur unsur dari daerah tersebut. Misalnya di daerah tropis yang pengaruh suhu dan
air sangat dominan, tebal pelapukan dapat mencapai seratus meter, sedangkan
daerah sub tropis pelapukannya hanya beberapa meter saja. Menurut proses
terjadinya pelapukan dapat digolongkan menjadi 3 jenis yaitu:
-pelapukan fiik atau mekanik
-pelapukan organis
-pelapukan kimiawi
Penjelasan ketiga jenis tersebut adalah:
a. Pelapukan fisik dan mekanik.
Pada proses ini batuan akan mengalami perubahan fisik baik
bentuk maupun ukuranya. Batuan yang besar menjadi kecil dan yang kecil menjadi
halus. Pelapukan ini di sebut juga pelapukan mekanik sebab prosesnya
berlangsung secara mekanik.
Penyebab terjadinya pelapukan mekanik yaitu:
1. Adanya perbedaan temperatur yang tinggi. Peristiwa ini
terutama terjadi di daerah yang beriklim kontinental atau beriklim Gurun di
daerah gurun temperatur pada siang hari dapat mencapai 50 Celcius. Pada siang hari
bersuhu tinggi atau panas. Batuan menjadi mengembang, pada malam hari saat
udara menjadi dingin, batuan mengerut. Apabila hal itu terjadi secara terus
menerus dapat mengakibatkan batuan pecah atau retak-retak.
2. Adapun pembekuan air di dalam batuan Jika air membeku maka
volumenya akan mengembang. Pengembangan ini menimbulkan tekanan, karena tekanan
ini batubatuan menjadi rusak atau pecah pecah. Pelapukan ini terjadi di daerah
yang beriklim sedang dengan pembekuan hebat.
3. Berubahnya air garam menjadi kristal. Jika air tanah
mengandung garam, maka pada siang hari airnya menguapdan garam akan
mengkristal. Kristal garam garam ini tajam sekali dan dapat merusak batuan pegunungan
di sekitarnya, terutama batuan karang di daerah pantai.
b. Pelapukan organik
Penyebabnya adalah proses organisme yaitu binatang tumbuhan
dan manusia, binatang yang dapat melakukan pelapukan antara lain cacing tanah,
serangga. Dibatu-batu karang daerah pantai sering terdapat lubang-lubang yang
dibuat oleh binatang. Pengaruh yang disebabkan oleh tumbuh tumbuhan ini dapat
bersifat mekanik atau kimiawi. Pengaruh sifat mekanik yaitu berkembangnya akar tumbuh-tumbuhan
di dalam tanah yang dapat merusak tanah disekitarnya. Pengaruh zat kimiawi
yaitu berupa zat asam yang dikeluarkan oleh akarakar serat makanan menghisap
garam makanan. Zat asam ini merusak batuan sehingga garam-garaman mudah diserap
oleh akar. Manusia juga berperan dalam pelapukan melalui aktifitas penebangan
pohon, pembangunan maupun penambangan.
c. Pelapukan kimiawi
Pada pelapukan ini batu batuan mengalami perubahan kimiawi
yang umumnya berupa pengelupasan. Pelapukan kimiawi tampak jelas terjadi pada
pegunungan kapur (Karst). Pelapukan ini berlangsung dengan batuan air dan suhu
yang tinggi. Air yang banyak mengandung CO2 (Zat asam arang) dapat
dengan mudah melarutkan batu kapur (CACO2). Peristiwa ini merupakan
pelarutan dan dapat menimbulkan gejala karst. Di Indonesia pelapukan yang
banyak terjadi adalah pelapukan kimiawi. Hal ini karena di Indonasia banyak
turun hujan. Air hujan inilah yang memudahkan terjadinya pelapukan kimiawi.
Gejala atau bentuk - bentuk alam yang terjadi di daerah
karst diantaranya:
a. Dolina
Dolina adalah lubang lubang yang berbanuk corong. Dolina
dapat terjadi karena erosi (pelarutan) atau karena runtuhan. Dolina terdapat hampir
di semua bagian pegununga kapur di jawa bagian selatan, yaitu di pegunungan
seribu.
b. Gua dan sungai di dalam Tanah
Di dalam tanah kapur mula-mula terdapat celah atau retakan.
Retakan akan semakin besar dan membentuk gua-gua atau lubang-lubang, karena
pengaruh larutan.Jika lubang-lubang itu berhubungan, akan terbentuklah
sungai-sungai di dalam tanah.
c. Stalaktit adalah kerucut kerucut kapur yang bergantungan
pada atap gua. Terbentuk dari kapur yang tebal akibat udara masuk dalam gua. Stalakmit
adalah kerucut-kerucut kapur yang berdiri pada dasar gua. Contohnnya stalaktit
dan stalakmit di Gua tabunan dan gua Gong di Pacitan, jawa Timur serta Gua
jatijajar di Kebumen, Jawa Tengah.
2. Bentangan alam akibat pengikisan.
Air yang mengalir menimbulkan gesekan terhadap tanah dan
batuan yang di laluinya. Gesekan akan semakin besar jika kecepatan dan jumlah
air semakin besar. Kecepatan air juga akan semakin besar jika gradien
(kemiringan) Lahan juga besar. Gesekan antara air dengan tanah atau batuan di
dasar sungai dan gesekan antara benda benda padat yang terangkat air oleh tanah
atau batuan di bawahnya dapat menyebabkan terjadinya pengikisan. Pengikisan oleh
air sungai yang terjadi secara terus menerus dapat mengakibatkan terbentuk v,
jurang atau ngarai, aliran deras dan air terjun.
a. Lembah
Apabila kecepatan aliran air di dasar sungai vepat maka akan
terjadi pengikisan di dasar sungai capat maka akan terjadi pengikisan di dasar sungai
atau sering di sebut erosi vertical. Apabila aliran aliran air yang cepat
terjadi di tepi sungai maka akan manyebabkan terjadinya pengikisan ke arah
samping atau erosi ke samping. Hasil erosi vertical, sungai semakin lama
semakin dalam, sedang erosi ke samping menyebabkan sungai samakin lebar. Erosi
vertical membentuk huruf v. Contoh lembah aria, Ngarai sianak serta Grand di
Amerika Serikat.
b. Jurang
Perhatikan anda melihat adanya sungai yang sangat dalam dan
sempit. Bentang alam seperti itu termasuk jurang. Jurang terbentuk jika
pengikisan terjadi pada batuan yang resisten. Batuan resistenyang ada di kanan
kiri sungai tidak mudah terkikis oleh air, sedangkan erosi veritikal terus berlangsung.
Oleh karena itu erosi vertical berlangsung lebih cepat dibandingkan erosi ke
samping. Akibatnya, dinding sungai sangat miring atau cenderung vertical dan
dasar sungai dalam.bahan yang resisten adalah batuan yang keras dan tidak mudah
terkikis air.
c. Aliran deras
Kadang kala kita temui sungai yang pada beberapa bagianya
sangat deras, sedangkan bagian yang lain tidak deras. Aliran air sungai yang deras
terbentuk dari adanya jenis batuan yang selang- seling antara batuan yang
resisten dan batuan yang tidak resisten pada dasar sungai. Saat air melewati
batuan yang resisten, air akan sulit melakukan pengikisan, akibatnya dasar
sungai menjadi tidak rata. Pada saat air melewati batuan yang tidak resisten,
terjadi turbulensi dan terbentuk seperti air terjun pendek yang aliranya deras.
Bentang alam seperti ini disebut rapit atau aliran deras.
d. Air terjun
Air terjun terbentuk pada sungai yang jenis batuan di dasar
sungai ada yang resisten yang tidak resisten.Proses yang terjadi hampir sama
dengan aliran deras. Hanya saja, pengikisan air mengakibatkan perbedaan air
yang cukup besar antara batuan resisten dan batuan tidak resisten. Akibatnya,
air jatuh dari ketinggian membentuk air terjun.
3. Pengikisan (erosi) oleh air laut
Erosi oleh air laut merupakan pengikisan di pantai oleh pukulan
gelombang laut yang Terjadi secara terus - menerus terhadap dinding pantai.
Bentang alam yang diakibatkan oleh erosi air laut, antara lain cliff (tebing
terjal), notch (takik), gua di pantai, wave cut platform (punggung yang
terpotong gelombang), tanjung, dan teluk. Cliff terbentuk karena gelombang melemahkan
batuan di pantai. Pada awalnya gelombang meretakan batuan di pantai. Akhirnya,
retakan semakin membesar dan membentuk notch yang semakin dalam akan membentuk
gua. Akibat diterjang gelobang secara terus menerus mengakibatkan atap gua
runtuh dan membentuk cliff dan wave cut playform.
Tanjung adalah daratan yang menjorok ke laut, sedang teluk
adalah laut yang menjorok ke arah daratan.
Pantai memiliki jenis batuan yang berselang seling antara
batuan resisten dan tidak resisten. Pada batuan yang tidak resisten akan dengan
mudah tererosi, sedangkan batuan yang resisten sulit untuk tererosi. Akibatnya,
pada batuan yang tidak resisten akan terbentuk teluk yang menjorok ke daratan pada
batuan yang resisten terbentuk tanjung yang menjorok ke laut.
1. Erosi oleh es/gletser
Erosi oleh gletser merupakan pengikisan yang dilakukan oleh
gletser (lapisan es) di daerah pegunungan. Pengikisan ini terjadi di daerah
yang memiliki empat musim. Pada saat musim semi, terjadi erosi oleh gletser yang
meluncur menuruni lembah. Akkibatnya lereng menjadi lebih terjal. Contoh
bentang alam yang terjadi akibat erosi gletser adalah pantai fyord, yaitu
pantai dengan dinding yang berkelok kelok.
2. Erosi oleh angin
Pengikisan oleh angin banyak terjadi di daerah gurun atau di
daerah yang beriklim kering. Jika angin dan pasir mengikis batu batuan yang
dilaluinya maka akan membentuk batu cendawan di gunung pasir. Contohnya, Tanah
Loss di cina Utara (Gurun Gobi) yang memiliki tebal 600 m.
B. Bentang Alam Akibat Proses Pengendapan (sedimentasi)
Sedimentasi adalah terbawanya material hasil dari pengikisan
dan pelapukan oleh Air, angin atau gletser ke suatu wilayah yang kemudian
diendapkan. Semua batuan hasil pelapukan dan pengikisan yang diendapkan lama
kelamaan akan menjadi batuan sedimen. Hasil proses sedimentasi di suatu tempat
dengan tempat lain akan berbeda. Berikut ini akan dijelaskan ciri bentang lahan
akibat proses pengendapan berdasarkan tenaga pengangkutnya.
1) Pengendapan oleh air
Batuan hasil pengendapan oleh air disebut sedimen akuatis.
Bentang alam hasil pengendapan oleh air, antara lain meander, dataran banjir,
tanggul alam dan delta.
a) Meander
Meander merupakan sungai yang berkelok - kelok yang
terbentuk karena adanya pengendapan. Proses berkelok-keloknya sungai dimulai dari
sungai bagian hulu.Pada bagian hulu, volume air kecil dan tenaga yang terbentuk
juga kecil. Akibatnya sungai mulai menghindari penghalang dan mencari rute yang
paling mudah dilewati. Sementara, pada bagian hulu belum terjadi pengendapan. Pada
bagian tengah, yang wilayahnya mulai datar aliran air mulai lambat dan
membentuk meander. Proses meander terjadi pada tepi sungi, baik bagian dalam
maupun tepi luar. Di bagian sungai yang aliranya cepat akan terjadi pengikisan
sedangkan bagian tepi sungai yang lamban alirannya akan terjadi pengendapan. Apabila
hal itu berlangsung secara terus-menerus akan membentuk meander. Meander
biasanya terbentuk pada sungai bagian hilir, dimana pengikisan dan Pengendapan
terjadi secara berturut turut. Proses pengendapan yang terjadi secara terus
menerus akan menyebabkan kelokan sungai terpotong dan terpisah dari aliran
sungai, Sehingga terbentuk oxbow lake.
b. Delta
Pada saat aliran air mendekati muara, seperti danau atau
laut maka kecepatan aliranya menjadi lambat. Akibatnya, terkadi pengendapan sedimen
oleh air sungai. Pasir akan diendapkan sedangkan tanah liat dan Lumpur akan
tetap terangkut oleh aliran air. Setelah sekian lama , akan terbentuk lapisan -
lapisan sedimen. Akhirnya lapian lapisan sedimen membentuk dataran yang luas
pada bagian sungai yang mendekati muaranya dan membentuk delta. Pembetukan
delta memenuhi beberapa syarat. Pertama, sedimen yang dibawa oleh sungai harus
banyak ketika akan masuk laut atau danau. Kedua, arus panjang di sepanjang
pantai tidak terlalu kuat. Ketiga , pantai harus dangkal. Contoh bentang alam
ini adalah delta Sungai Musi, Kapuas, dan Kali Brantas.
c. Dataran banjir dan tanggul alam
Apabila terjadi hujan lebat, volume air meningkat secara
cepat. Akibatnya terjadi banjir dan meluapnya air hingga ke tepi sungai. Pada
saat air surut, bahan bahan yang terbawa oleh air sungai akan terendapkan di
tepi sungai. Akibatnya, terbentuk suatu Dataran di tepi sungai. Timbulnya material
yang tidak halus (kasar) terdapat pada tepi sungai. Akibatnya tepi sungai lebih
tinggi dibandingkan dataran banjir yang terbentuk. Bentang alam itu disebut
tanggul alam.
2) Pengendapan oleh Air Laut
Batuan hasil pengendapan oleh air laut disebut sedimen
marine. Pengendapan oleh air laut dikarenakan adanya gelombang. Bentang alam hasil
pengendapan oleh air laut, Antara lain pesisir, spit, tombolo, dan penghalang
pantai. Pesisir merupakan wilayah pengendapan di sepanjang pantai. Biasanya
terdiri dari material pasir. Ukuran dan komposisi material di pantai sangat
berfariasi tergantung pada perubahan kondisi cuaca, arah angin, dan arus laut. Arus
pantai mengangkut material yang ada di sepanjang pantai. Jika terjadi perubahan
arah, maka arus pantai akan tetap mengangkut material material ke laut yang
dalam. ketika material masuk ke laut yang dalam, terjadi pengendapan material.
Setelah sekian lama, terdapat akumulasi material yang ada di atas permukaan
laut. Akumulasi material itu Disebut spit.Jika arus pantai terus berlanjut,
spit akan semakin panjang. Kadang kadang spit terbentuk melewati teluk dan
membetuk penghalang pantai (barrier beach).
3) Pengendapan oleh angin
Sedimen hasil pengendapan oleh angin disebut sedimen aeolis.
Bentang alam hasil pengendapan oleh angin dapat berupa gumuk pasir (sand dune).
Gumuk pantai dapat terjadi di daerah pantai maupun gurun. Gumuk pasir terjadi
bila terjadi akumulasi pasir yang cukup banyak dan tiupan angin yang kuat. Angin
mengangkut dan mengedapkan Pasir di suatu tempat secara bertahap sehingga
terbentuk timbunan pasir yang disebut gumuk pasir.
4) Pengendapan oleh gletser.
Sedimen hasil pengendapan oleh gletser disebut sedimen
glacial. Bentang alam hasil Pengendapan oleh gletser adalah bentuk lembah yang
semula berbentuk V menjadi U. Pada saat musim semi tiba, terjadi pengikisan
oleh gletser yang meluncur menuruni lembah. Batuan atau tanah hasil pengikisan juga
menuruni lereng dan mengendap di lemah. Akibatnya, lembah yang semula berbentuk
V menjadi berbentuk U.
C. Dampak Perubahan Lithosfer Terhadap Kehidupan
Perubahan lithosfer yang akan dibahas di sini adalah perubahan
yang mengarah kepada kerusakan di muka bumi yang dinamakan juga sebagai degradasi.Degradasi
di sini artinya penurunan kwalitas maupun perusakan lahan. Penebangan hutan
yang semena - mena penyebab utama degradasi lahan. Selain itu tidak terkendali
dan tidak terencananya penebangan hutan secara baik merupakan bahaya Ekologis
yang paling besar. Ada beberapa faktor penyebab terjadinya degradasi yaitu:
-Erosi
-Pestisida
-bahan radio aktif
-pupuk kimia
-deterjen
-sampah organic (terutama dari derah perkotaan )
-wabah dan penyakit (baik bagi manusia, hewan maupun
pertumbuhan) dan penyebaran organisma yang menyebabkan infeksi,
-limbah industri anorganik (berbentuk gas, cair dan padat.
Dampak erosi yaitu:
Erosi mempunyai beberapa akibat buruk. Penurunan kesuburan
tanah. Kedua menurunnya produksi sehingga akan mengurangi pendapatan
petani.Erosi tanah dapat terjadi karena adanya curah hujan yang tinggi,
vegetasi penutup lahan yang kurang, kemiringan lereng, dan tata guna lahan yang
kurang tepat. Pendangkalan sungai untuk mengalirkan air juga berkurang dan
menyebabkan bahaya banjir. Kerusakan sumber daya air selain banjir dan erosi
adalah kekeringan dan pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh aktivitas
manusia. Kerusakan sumber daya tanah dan air merupakan masalah yang tidak dapat
dipisahkan. Hal ini karena sebagai sumber daya alam, tanah mempunyai peranan
yang sangat penting Sebagai sumber unsur bagi tumbuhan dan sebagai media akar
tumbuhan berjangkar dan tempat air tanah tersimpan. Masalah tanah dan air
merupakan salah satu masalah yang kini menonjol di Daerah Aliran Sungai DAS,
yang diorientasikan kepada segi- segi pemgawetan tanah dan air dengan titik
berat kepada peningkatan kesejahteraan masyarakat harus dirasakan oleh segenap
lapisan masyarakat.
a. Kerusakan Lingkungan Kota
Migrasi penduduk merupakan salah satu mekanisme untuk
menjaga agar kepadatan penduduk tidak melampaui daya dukung lingkungan. Salah
satu migrasi yang banyak terjadi aalah migrasi dari desa ke kotayang disebut urbanisasi.
Proses urbanisasi itu umumnya makin kuat seiring dengan makin meningkatkan
fasilitas suatu kota. Kebiasaan yang membuang sampah di mana dilakukan di kota.
Di kota tidak ada daur ulang sampah padahal pelayanan sanitasi di kata
bertambah dan bahkan menurun. Penurunan fungsi sanitasi dan tidak tersedianya
airminum yang bersih mengakibatkan terjadinya ledakan penyakit kolera secara
berkala. Bentuk kerusakan lingkungan kota yang lain adalah terjadinya banjir,
kenaikan jumlah Penduduk dan kesadaran lingkungan. Hal ini mengakibatkan permukaan
tanah yang kedap terhadap air bertambah. Sehingga sedikit air hujan yang dapat
meresap ke dalam tanah. Di samping kerusakan sosial budaya, orang desa yang
bermigrasi ke kota banyak yang mempunyai pendidikan yang rendah dan tidak
terampil. Oleh sebab itu, mereka kesukaran mendapatkan pekerjaan yang layak.
b. Kerusakan Lingkungan Desa
Usaha untuk menaikan daya dukung lingkungan dengan menambah
luas lahan yang digunakan untuk pertanian merupakan reaksi terhadap kenaikan kepadatan
penduduk. Reaksi tersebut merupakan kekuatan yang disebut tekanan penduduk. Tekanan
penduduk terhadap lahan semakin diperbesar oleh bertambah sempitnya lahan
pertanian karena digunakan untuk kepentingan lain, misalnya permukiman, jalan,
dan pabrik. Kerusakan hutan membawa banyak akibat. Hutan mempunyai fungsi
perlindungan terhadap tanah.Tetesan air hujan dengan energinya memukul
permukaan tanah mengakibatkan mengelupasnya butir-butir tanah. Proses ini
disebut dengan erosi percikan (splash erosion).