1. Hidrosfer
Pernahkah Anda perhatikan berbagai macam air yang ada di
sekitar Anda? Di sana Anda akan melihat air sumur, air ledeng (PAM), air
sungai, air hujan, air rawa, air danau, air laut, air es dan lain-lain. Coba
sekarang Anda jawab mana yang lebih luas, apakah permukaan bumi kita ini lebih
banyak ditutup oleh air atau daratan?
Jika jawabanmu air lebih luas dari pada daratan, maka
jawabanmu benar. Memang bumi tempat tinggal kita ini merupakan salah satu
planet dalam sistem tata surya yang sebagian besar permukaannya tertutup oleh
air. Hampir tiga perempat permukaan bumi tertutup oleh air, baik air yang ada
di darat maupun yang ada di laut. Lapisan air yang menutupi permukaan bumi kita
ini disebut hidrosfer. Nah sekali lagi Anda ingat yang dimaksud dengan hidrosfer
adalah lapisan air yang menutupi permukaan bumi. Lapisan air yang menutupi
permukaan bumi membentuk samudera, laut, rawa, danau, sungai, tumpukan es,
awan, uap dan lain-lain. Air yang terdapat di permukaan bumi dapat berbentuk
padat (seperti es, gletser), berbentuk air (seperti air sungai, air danau, air
laut), dan berbentuk gas (seperti awan dan uap di udara/atmosfer). Perlu juga
Anda ketahui bahwa jumlah air di bumi ini tetap, akibat adanya sinar matahari
terjadi siklus (daur) air. Proses terjadinya siklus air dapat Anda pelajari
melalui uraian berikut:
a. Siklus air kecil
Karena terjadi pemanasan oleh sinar matahari, air di
laut/lautan menguap, membubung di udara. Di udara uap air mengalami penurunan
suhu karena perbedaan ketinggian (setiap naik 100 meter suhu udara turun
0,5°C). Dengan demikian semakin ke atas suhu udara semakin rendah, sehingga
terjadi proses kondensasi
b. Siklus air sedang
Uap air yang berasal dari laut/lautan ditiup angin bergerak
sampai di atas daratan bergabung dengan uap air yang berasal dari sungai,
danau, tumbuh-tumbuhan dan benda-benda lainnya. Setelah mencapai ketinggian
tertentu uap air berkondensasi membentuk butir-butir air terkumpul menjadi awan
dan jatuh di atas daratan sebagai hujan.
c. Siklus air besar
Uap air yang berasal dari laut/lautan setelah sampai di atas
daratan karena dibawa angin bergabung dengan uap air yang berasal dari danau,
sungai, rawa, tumbuh-tumbuhan dan bendabenda lainnya. Uap yang telah bergabung
tersebut tidak saja berkondensasi bahkan membeku, membentuk awan yang terdiri
dari kristal-kristal es.
Holtzman memberikan gambaran siklus air secara keseluruhan
sebagai berikut:
akibat pemanasan oleh sinar matahari air yang ada di laut,
sungai, danau, rawa dan benda-benda lainnya menguap membubung ke angkasa.
Setelah mencapai ketinggian tertentu (karena pengaruh suhu) uap air berubah
menjadi awan atau titik-titik air. Awan turun ke permukaan bumi berupa hujan.
Sebagian air hujan turun di permukaan laut dan sebagian lainnya turun di atas
daratan. Air hujan yang turun di darat dan sebagian lagi mengalir kembali ke
laut melalui sungai.
2. Pengertian Perairan Darat, Jenis dan Persebarannya.
Sekarang coba perhatikan air sumur, air pompa, air sungai,
air empang, air danau, air rawa yang ada di sekitar rumah Anda. Air-air
tersebut termasuk dalam bentang perairan darat. Coba Anda renungkan sejenak,
apa yang dimaksud dengan perairan darat?, kemudian tuliskan jawabannya di buku
latihanmu atau di selembar kertas. Sekarang cocokkan jawaban Anda dengan
jawaban berikut ini:
Perairan darat adalah semua bentuk perairan yang terdapat di
darat. Bentuk perairan yang terdapat di darat meliputi, mata air, air yang
mengalir di permukaan bergerak menuju ke daerah-daerah yang lebih rendah
membentuk sungai, danau, rawa dan lain-lain yang memiliki suatu pola aliran
yang dinamakan Daerah Aliran Sungai (DAS).
Dari penjelasan di atas tentunya Anda paham bukan, bahwa air
sumur, air sungai, rawa, danau, empang dan sejenisnya termasuk jenis perairan
darat. Tata air yang berada di wilayah daratan tersebut dipelajari oleh suatu
ilmu yang disebut hidrologi. Marilah kita lanjutkan dengan jenis dan persebaran
perairan darat. Topik yang akan dibahas mengenai jenis dan persebaran perairan
darat ini antara lain danau, rawa, air tanah, sungai, dan Daerah Aliran Sungai
(DAS).
a. Danau
Pernahkah Anda melihat danau atau barangkali di sekitar
tempat tinggal atau sekolahmu terdapat danau. Kalau pernah, coba tulis di
kertas, apa nama danau yang pernah Anda lihat serta di mana danau tersebut
berada. Dari hasil pengamatan Anda tentang danau, coba perhatikan apakah sesuai
jika dikatakan bahwa danau itu merupakan suatu daratan yang cekung (basin) yang
digenangi air yang cukup banyak. Air yang menggenangi danau bisa berasal dari
mata air, air tanah, air sungai yang berpelepasan atau bermuara di danau
tersebut atau bisa juga berasal dari air hujan. Bagaimana, apakah keterangan
tersebut sesuai dengan keadaan danau yang Anda amati?, kalau tidak diskusikan
dengan teman atau guru Pamongmu. Air yang mengisi danau biasanya air tawar,
contohnya Danau Toba di Sumatera Utara, Danau Poso di Sulawesi Tengah, dan Riam
Kanan di Kalimantan Selatan. Selain air tawar ada juga danau yang airnya asin
(memiliki kadar garam tinggi) seperti Danau Kaspia, Danau Laut Mati, Danau Laut
Aral, Great Salt dan lain-lain. Mengapa ada danau yang airnya asin? Hal ini
terjadi karena di danau terjadi penguapan yang sangat tinggi. Di samping itu
air yang masuk ke danau tersebut biasanya tidak berpelepasan atau tidak
mengalir lagi ke tempat lain.
Ada bermacam-macam jenis danau
Berdasarkan proses kejadiannya danau dibedakan menjadi 6
macam yaitu danau: Tektonik, Vulkanik, Tektono-Vulkanik, Karst, Glasial dan
Waduk atau Bendungan.
1) Danau Tektonik, yaitu danau yang terjadi akibat adanya
peristiwa tektonik seperti gempa. Akibat gempa terjadi proses patahan (fault)
pada permukaan tanah. Permukaan tanah yang patah mengalami pemerosotan atau
ambles (subsidence) dan menjadi cekung. Selanjutnya bagian yang cekung karena
ambles tersebut terisi air dan terbentuklah danau. Danau jenis ini contohnya
danau Poso, danau Tempe, danau Tondano, dan danau Towuti di Sulawesi. Danau
Singkarak, danau Maninjau, dan danau Takengon di Sumatera.
2) Danau Vulkanik atau danau Kawah, yaitu danau yang
terdapat pada kawah lubang kepunden bekas letusan gunung berapi. Ketika gunung
meletus batuan yang menutup kawasan kepunden rontok dan meninggalkan bekas
lubang di sana. Ketika terjadi hujan lubang tersebut terisi air dan membentuk
sebuah danau. Contoh danau jenis ini ialah danau Kelimutu di Flores, Kawah
Bromo, danau gunung Lamongan di Jawa Timur, danau Batur di Bali danau Kerinci
di Sumatera Barat serta Kawah gunung Kelud.
3) Danau Tektono-Vulkanik, yaitu danau yang terjadi akibat
proses gabungan antara proses vulkanik dengan proses tektonik. Ketika gunung
berapi meletus, sebagian tanah/batuan yang menutupi gunung patah dan merosot
membentuk cekungan. Selanjutnya cekungan tersebut terisi air dan terbentuklah
danau. Contoh danau jenis ini adalah danau Toba di Sumatera Utara.
4) Danau Karst. Danau jenis ini disebut juga Doline, yaitu
danau yang terdapat di daerah berbatu kapur. Danau jenis ini terjadi akibat
adanya erosi atau pelarutan batu kapur. Bekas erosi membentuk cekungan dan
cekungan terisi air sehingga terbentuklah danau.
5) Danau Glasial, danau yang terjadi karena adanya erosi
gletser. Pencairan es akibat erosi mengisi cekungan-cekungan yang dilewati
sehingga terbentuk danau. Contoh danau jenis ini terdapat di perbatasan antara
Amerika dengan Kanada yaitu danau Superior, danau Michigan dan danau Ontario.
6) Waduk atau Bendungan, adalah danau yang sengaja dibuat
oleh manusia. Pembuatan waduk biasanya berkaitan dengan kepentingan pengadaan
listrik tenaga air, perikanan, pertanian dan rekreasi. Contoh danau jenis ini
misalnya Saguling, Citarum dan Jatiluhur di Jawa Barat, Riam Kanan dan Riam
Kiri di Kalimantan Selatan, Rawa Pening, Kedung Ombo dan Gajah Mungkur di Jawa
Tengah.
b. Rawa
Pernahkah Anda melihat/menyaksikan rawa, atau barangkali di
sekitar tempat tinggal Anda terdapat rawa. Daerah rawa banyak kita temukan di
pantai timur pulau Sumatera dan pantai selatan pulau Kalimantan. Secara ringkas
dapat dikatakan bahwa:
Rawa atau paya-paya adalah daerah rendah yang selalu
tergenang air. Air yang menggenangi rawa bisa berupa air hujan, air sungai
maupun dari sumber mata air tanah.
Ada dua jenis rawa yaitu:
1) Rawa yang airnya tidak mengalami pergantian, dan
2) Rawa yang airnya selalu mengalami pergantian.
Rawa jenis pertama tidak memiliki pintu pelepasan air
sehingga airnya selalu tergenang. Sedangkan rawa jenis kedua memiliki pintu
pelepasan air sehingga airnya berganti.
Rawa yang airnya tidak mengalami pergantian memiliki
ciri-ciri sebagai berikut:
1) Airnya asam atau payau, berwarna merah, kurang bagus
untuk mengairi tanaman dan tidak dapat dijadikan air minum. Kadar keasaman air
(pH) mencapai 4,5.
2) Karena airnya asam, maka tidak banyak organisme (hewan
maupun tumbuh-tumbuhan) yang hidup.
3) Pada bagian dasar rawa umumnya tertutup gambut yang
tebal.
Sedangkan rawa yang airnya mengalami pergantian memiliki
ciri-ciri yang sebaliknya yaitu:
1) Airnya tidak terlalu asam.
2) Banyak organisme yang hidup seperti cacing tanah, ikan
serta tumbuh-tumbuhan rawa seperti eceng gondok, pohon rumbia dan lain-lain.
3) Dapat diolah menjadi lahan pertanian.
Keberadaan rawa banyak manfaatnya bagi kehidupan kita,
manfaat rawa bagi kehidupan kita antara lain:
1)Tumbuhan rawa seperti eceng gondok dapat dijadikan bahan
baku pembuatan biogas dan
barang- barang
kerajinan anyaman seperti tas, dompet, hiasan dinding dan lain-lain,
2) Dapat dijadikan daerah pertanian pasang surut,
3) Sebagai lahan untuk usaha perikanan darat, dan
4) Dapat dikembangkan menjadi daerah wisata.
Rawa merupakan salah satu ekosistem perairan darat yang
harus kita jaga kelestariannya. Untuk menjaga kelestarian rawa dapat ditempuh
beberapa cara antara lain:
1) Tidak sembarangan menebangi pohon-pohon atau
tumbuh-tumbuhan yang tumbuh di rawa.
2) Tidak membuang limbah ke rawa, karena dapat membahayakan
kehidupan organisme di dalamnya.
c. Air Tanah
Pernahkah Anda perhatikan air yang Anda minum setiap hari,
dari manakah air tersebut diperoleh? Kalau jawaban Anda dari air tanah, maka
jawaban Anda betul. Di sekitar kita (di permukaan tanah), dapat kita saksikan
adanya air sumur, sungai, danau, rawa dan lain-lain. Sebenarnya di bawah permukaan
tanah terdapat kumpulan air yang mempersatukan kumpulan air yang ada di permukaan.
Kumpulan air inilah yang disebut air tanah. Jadi benar jika Anda mengatakan
bahwa air yang kita minum serta kita gunakan untuk berbagai keperluan
sehari-hari adalah air tanah. Pengambilan air tanah dapat dilakukan dengan
menimba, memompa atau mengalirkan air dari sebuah mata air. Dimanakah air tanah
berada? Air tanah berada pada pori-pori dan celah-celah batuan. Kalau Anda
memperhatikan permukaan air sumur, maka akan Anda lihat bahwa dalamnya permukaan
air sumur di berbagai tempat tidak sama. Ada daerah tertentu misalnya di daerah
pantai atau di pinggir sungai, mungkin cukup menggali 2 meter kita telah memperoleh
air tanah, tetapi di daerah gunung mungkin kita perlu menggali hingga
kedalamannya mencapai 10 atau 15 meter untuk memperoleh air tanah. Perbedaan
ini disebabkan oleh perbedaan topografi. Perbedaan jenis tanah juga mempengaruhi
kedalaman permukaan air tanah. Contohnya di daerah gurun kedalamannya bisa
mencapai 50 meter atau lebih, sehingga jarang tumbuh-tumbuhan yang hidup di situ
karena akar tumbuhan tidak mampu menjangkau permukaan air. Penyebab lainnya
adalah faktor musim. Pada musim kemarau permukaan air tanah akan lebih dalam
jika dibandingkan pada musim penghujan.
Ada bermacam-macam jenis air tanah.
1) Menurut letaknya, air tanah dapat dibedakan menjadi dua,
yaitu air tanah permukaan (Freatik) dan air tanah dalam.
a) Air tanah permukaan (Freatik) adalah air tanah yang
terdapat di atas lapisan tanah/batuan yang tidak tembus air (impermeable). Air
yang ada di sumursumur, sungai, danau dan rawa termasuk jenis ini.
b) Air tanah dalam, adalah air tanah yang terdapat di bawah
lapisan tanah/ batuan yang tidak tembus air (impermeable). Untuk memperoleh air
tanah jenis ini harus dilakukan pengeboran. Sumur bor atau artesis merupakan salah
satu contoh sumur yang airnya berasal dari air tanah dalam.
2) Menurut asalnya air tanah dapat dibedakan menjadi air
tanah yang berasal dari atmosfer (angkasa) dan air tanah yang berasal dari
dalam perut bumi.
a) Air tanah yang berasal dari atmosfer disebut meteoric
water, yaitu air tanah berasal dari hujan dan pencairan salju.
b) Air tanah yang berasal dari dalam bumi misalnya air tanah
turbir (yaitu air tanah yang tersimpan di dalam batuan sedimen) dan air tanah
juvenil yaitu air tanah yang naik dari magma bila gas-gasnya dibebaskan melalui
mata air panas.
Ada 4 wilayah air tanah yaitu:
1) Wilayah yang masih terpengaruh udara. Pada bagian teratas
dari permukaan bumi terdapat lapisan tanah yang mengandung air. Karena pengaruh
gaya berat (gravitasi), air di wilayah ini akan bebas bergerak ke bawah.
Tumbuh-tumbuhan memanfaatkan air pada lapisan ini untuk menopang kelangsungan
hidupnya.
2) Wilayah jenuh air.
Wilayah inilah yang disebut dengan wilayah kedalaman sumur.
Kedalaman wilayah ini tergantung pada topografi, jenis tanah dan musim.
3) Wilayah kapiler udara.
Wilayah ini merupakan peralihan antara wilayah terpengaruh
udara dengan wilayah jenuh air. Air tanahnya diperoleh dari proses kapilerisasi
(perembesan naik) dari wilayah jenuh air.
4) Wilayah air dalam.
Wilayah ini berisikan air yang terdapat di bawah tanah/batuan
yang tidak tembus air.